Feature
Efek Mata Uang Iran Kolaps, Kemiskinan Kian Menjamur
JAKARTA - Mata uang Iran, Rial, mencatat kemerosotan tajam yang termasuk paling ekstrem dalam sejarah ekonomi modern. Memasuki awal 2026, kurs di pasar bebas melonjak hingga melampaui 1,4 juta Rial untuk setiap 1 Dolar Amerika Serikat (USD).
Kondisi ini tidak hanya mencerminkan pelemahan nilai tukar semata, tetapi juga menandakan ambruknya daya beli masyarakat, hilangnya kepercayaan publik, serta terganggunya stabilitas ekonomi negara.
Di banyak pasar tradisional, pedagang mulai menolak pembayaran dalam Rial dan lebih memilih dolar, emas, atau bentuk barter, menandakan erosi fungsi dasar uang sebagai alat tukar dan penyimpan nilai.
Sebelum Revolusi Islam 1979, nilai tukar Rial Iran relatif stabil di kisaran 70 IRR per USD, mencerminkan ekonomi yang masih terintegrasi dengan sistem global.
Namun sejak revolusi, mata uang ini terus melemah seiring konflik geopolitik dan isolasi ekonomi. Titik balik krusial terjadi pada 2018 ketika Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir JCPOA, memicu kembalinya sanksi finansial dan energi yang ketat.
Pada Desember 2025, nilai Rial anjlok ke kisaran 1,25 hingga 1,44 juta per USD, dipicu perang singkat dengan Israel, inflasi yang tak terkendali, dan kepanikan pasar.
Memasuki Januari 2026, nilai tukar sempat menyentuh 1 juta Rial per USD, sebelum akhirnya bertahan di sekitar 1,4 juta di pasar paralel, sementara pemerintah tetap mematok kurs resmi bersubsidi di level 42.000 IRR per USD yang semakin tidak relevan dengan kondisi riil.
Baca juga : Kisah Lewotobi dan Papua Warnai Apresiasi Astra 2025
Akar Krisis Ambruknya Ekonomi Iran
Sanksi Internasional yang Mengisolasi Iran
Sanksi ekonomi yang dipimpin Amerika Serikat sejak 2018 telah melumpuhkan akses Iran ke sistem keuangan global. Iran terputus dari jaringan pembayaran internasional, kesulitan mengakses cadangan devisa, dan kehilangan pasar ekspor minyak secara normal.
Minyak, sumber utama devisa negara harus dijual dengan diskon besar melalui jalur tidak langsung, terutama ke China, sehingga pendapatan negara jauh di bawah potensi sebenarnya dan pasokan dolar di dalam negeri semakin menipis.
Inflasi Kronis dan Kebijakan Fiskal yang Gagal
Inflasi di Iran telah bertahun-tahun berada di atas 40 persen, bahkan sempat menyentuh 52,6 persen, menjadikannya salah satu yang tertinggi di dunia.
Pemerintah menutup defisit anggaran melalui pencetakan uang dalam jumlah besar, yang secara langsung mempercepat depresiasi Rial.
Kenaikan harga pangan, energi, dan obat-obatan melampaui pertumbuhan upah, menghancurkan kelas menengah dan mendorong jutaan warga ke jurang kemiskinan.
Sistem Kurs Ganda dan Korupsi Terstruktur
Pemerintah Iran mempertahankan sistem nilai tukar ganda dengan kurs resmi bersubsidi untuk impor kebutuhan pokok dan kurs pasar bebas yang berlipat-lipat lebih tinggi.
Selisih ekstrem ini menciptakan ruang besar bagi praktik korupsi, arbitrase, dan ekonomi rente. Akses terhadap dolar murah sering kali terbatas pada perusahaan dengan koneksi politik dan militer, sementara masyarakat umum harus membeli valuta asing di pasar gelap dengan harga selangit.
Dominasi Ekonomi oleh IRGC
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memainkan peran dominan dalam perekonomian Iran melalui jaringan perusahaan semi-negara yang menguasai sektor energi, konstruksi, logistik, dan perdagangan.
IRGC kerap memperoleh kontrak tanpa tender, akses istimewa terhadap devisa, serta kemampuan menghindari sanksi internasional. Dominasi ini mendistorsi mekanisme pasar, mematikan persaingan sehat, dan semakin meminggirkan sektor swasta nasional.
Ketidakpastian Politik
Keterlibatan Iran dalam berbagai konflik regional, perang singkat dengan Israel, serta mandeknya negosiasi nuklir telah memperparah ketidakpastian politik. Pasar dan pelaku ekonomi kehilangan kepercayaan terhadap masa depan Iran, memicu pelarian modal dan mempercepat kejatuhan nilai mata uang nasional.
Baca juga : Harga Sembako Jakarta: Tepung Terigu Turun

Dampak Sosial
Keruntuhan Rial telah menghancurkan daya beli masyarakat. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam, sementara pendapatan riil terus tergerus inflasi.
Dalam satu dekade terakhir, hampir 10 juta warga Iran jatuh miskin, dan sekitar 40% populasi kini berada di ambang kemiskinan. Daging, produk susu, dan obat-obatan impor berubah menjadi barang mewah yang sulit dijangkau sebagian besar rumah tangga.
Perekonomian Iran diperkirakan mengalami kontraksi, dengan pertumbuhan negatif pada 2025 dan 2026. Tingkat pengangguran melonjak, khususnya di kalangan pria usia produktif 25 hingga 40 tahun, di mana sekitar separuhnya dilaporkan tidak bekerja atau keluar dari pasar tenaga kerja.
Pemadaman listrik yang terjadi secara rutin semakin melumpuhkan sektor industri dan manufaktur, memperdalam krisis ekonomi. Kehilangan kepercayaan terhadap Rial mendorong masyarakat menyimpan kekayaan dalam bentuk dolar AS, emas, properti, hingga mata kripto.
Fenomena “dollarisasi” ini mempercepat pelemahan mata uang nasional karena permintaan terhadap Rial terus menyusut, menciptakan lingkaran setan depresiasi yang sulit diputus.
Ketidakpuasan publik memicu gelombang protes yang bermula dari pasar tradisional dan menyebar ke berbagai kota besar. Tuntutan ekonomi bercampur dengan kritik terhadap kepemimpinan politik.
Pemerintah merespons dengan pemadaman internet nasional, pengetatan kontrol informasi, serta tindakan represif terhadap demonstran, yang semakin memperlebar jurang antara negara dan rakyat.
Pemerintah Iran sempat mewacanakan redenominasi atau penghapusan sejumlah nol dari Rial sebagai solusi teknis. Namun para ekonom menilai langkah ini hanya bersifat kosmetik dan tidak menyentuh akar persoalan.
Tanpa reformasi fiskal, transparansi anggaran, pembatasan peran militer dalam ekonomi, serta normalisasi hubungan internasional, kebijakan moneter apa pun akan kehilangan efektivitas.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 14 Jan 2026
