Bangkitkan Ekosistem Seni saat Pandemi, Raja Klungkung Apresiasi "Timeless Art Exhibition and Culinary"

Raja Klungkung, Ida Dalem Semaraputra mengapresiasi pameran lukisan bertajuk "Timeless Art Exhibition and Culinary" di Konderatu Beach Club, Badung (sumber: Istimewa)

Badung, Balinesia.id - Raja Klungkung, Ida Dalem Semaraputra, mengapresiasi pameran seni "Timeless Art Exhibition and Culinary" di Konderatu Beach Club beberapa waktu lalu. Pameran yang menampilkan karya maestro seni rupa Bali, I Nyoman Gunarsa dan I Wayan Bendi koleksi Konderatu Beach Club, serta 7 buah lukisan karya I Gede Made Surya Darma tersebut dinilai sangat baik membangkitkan ekosistem seni di Bali, terlebih dalam suasana pandemi.

Menurut Ida Dalem Semaraputra yang kala itu datang bersama Penglingsir Puri Agung Singaraja, Anak Agung Ngurah Ugrasena, pameran tersebut memiliki dua sisi penting. Pada satu sisigelaran pameran akan meningkatkan prestasi, daya kreatif, dan inovasi seniman, sedangkan pada sisi lainnya dapat turut mempromosikan geliat kesenian di Bali.

"Pameran seperti ini perlu didukung oleh pecinta seni agar para seniman dapat terus berkarya. Selamat dan teruslah berkarya," kata Ida Dalem.

Sementara itu, Penglingsir Puri Agung Singaraja, Anak Agung Ngurah Ugrasena, menyampaikan bahwa pameran yang digagas Yayasan Konderatu di Kelan Beach Kedonganan, Tuban itu dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya pelukis muda agar terus berkarya dan memberi warna dalam bidang senirupa.

"Kita perlu mengapresiasi karya seni rupa seperti lukisan I Gede Made Surya Darma yang memiliki nilai seni spesifik dan unik. Kita perlu apresiasi dan dorong untuk terus berkarya demi Bali dan Indonesia. Saya pribadi menilai saudara I Gede Made Surya Darma mempunyai kemampuan seni yang dalam," katanya.

Terhadap apresiasi yang diberikan oleh dua penglingsir itu, Owner Konderatu Beach Club, Herlinda Siahaan, mengatakan bahwa selama ini pihaknya selalu berkomitmen berjuang dan mempromosikan seni serta budaya Indonesia. Pada tahun 2017, tuturnya, bahkan gelaran Timeless Indonesia Festival yang digagasnya turut dimeriahkan tujuh kesultanan atau kerajaan dari berbagai daerah di Indonesaia. Ketujuhnya adalah Puri Klungkung, Puri Buleleng, Kesultanan Sumedang Larang, Kesultanan Minangkabau, Kesultanan Deli, Kedatuan Luwu, dan Kesultanan Cirebon. Pada festival tersebut mereka menampilan tari tradisional, atraksi budaya, dan peragaan busana.

"Namun, Timeless Art Exhibition kali ini sangat berbeda dengan event sebelumnya, karena adanya pandemi Covid-19. Konderatu menggandeng beberapa UMKM dengan mengadakan food beverage, cocktail, artefact and textile, handicraft, foot massage, hair cut, fashion, and virus keeper," katanya.

Semua sajian tersebut kemudian disatukan dalam satu kesatuan acara yang ditujukan sebagai ajang pemulihan ekonomi di masa pandemi. "Kami menggandeng seniman I Gede Made Surya Darma, salah satu perupa muda Bali yang aktif di dalam kegiatan kesenian, baik di tingkat nasional maupun international. Surya Darma sudah memamerkan dan mempertunjukkan karya seninya di beberapa negara seperti Jerman, Japan, Myanmar, Philippine, Austria, India, dan Malaysia. Sedangkan di Indonesia, ia telah memamerkan karyanya di beberapa kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan Bali," jelasnya.

Mengikuti tema yang diangkat, Surya Darma memamerkan tujuh buah lukisan yang bertemakan buah-buahan. Ketujuh karya tersebut berjudul Hot in Three, Hot in Six, Out of The Box, Go Green, Cave to Heaven, Red Wine, dan Photosynthesis. Karya Out of The Box akhirnya menarik perhatian Ida Dalem Semaraputra untuk dikoleksi. Sedangkan, A.A. Ugradena memilih karya berjudul Red Wine sebagai koleksinya.

Surya Darma mengatakan, lukisan berjudul Out of The Box, adalah bentuk respons dirinya terhadap pandemi Covid-19 yang telah menyebar di seluruh dunia. "Ketika banyak orang berpikir dari sisi negatif tentang pandemi Covid-19, saya mencoba berpikir dari sisi positif, menyemangati diri untuk beradaptasi dengan keadaan ini," katanya.

Sementara itu, lukisan berjudul Red Wine terinspirasi dari proses fermentasi wine. Sebagaimana diketahui, minuman alkohol ini berasal dari buah anggur yang difermentasi. Melalui proses sedemikian rupa, anggur yang berupa buah akhirnya menjadi minuman yang sangat dikenal masyarakat dunia.

"Ini sebagai metafora bahwa dalam menjalani kehidupan, kita mengalami banyak proses sehingga mengerucut untuk suatu tujuan hidup. Itu dianalogikan sebagai puncak dari proses kehidupan," terangnya.

Surya Darma juga mengaku sangat senang atas apresiasi yang diberikan oleh dua tokoh puri yang sangat berpengaruh di Bali itu. "Kedatangan beliu tentu sebagai penghargaan yang luar biasa bagi saya, yang mana dalam sejarahnya dulu kerajaan di Bali memang sangat menghargai karya karya seniman. Apresiasi dari beliau membuat saya lebih bergairah berkesenian, dan ada tanggung jawab moral untuk memajukan seni dan kebudayaan di Indonesia," pungkasnya. (jro)

Bagikan
Jero P. Ariana

Jero P. Ariana

Lihat semua artikel

Most Popular








Related Stories