Feature
Awas! Penipuan Modus Love Scam Makin Marak di Era Digital
JAKARTA - Di era digital, internet tidak lagi hanya berfungsi sebagai media komunikasi, tetapi juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menyalahgunakan kepercayaan pengguna. Salah satu bentuk kejahatan siber yang mengalami peningkatan tajam adalah romance scam atau love scam.
Sebagai gambaran, love scam adalah tindak kejahatan di mana pelaku menggunakan identitas palsu di dunia maya untuk membangun kedekatan emosional dan memperoleh kepercayaan korban. Setelah hubungan semu tersebut terbentuk, pelaku memanfaatkannya untuk memanipulasi korban dengan tujuan menguras atau mencuri uang.
Modus ini memanfaatkan platform media sosial, aplikasi kencan, dan layanan pesan instan untuk mendekati korban dengan dalih hubungan asmara, kemudian memanipulasi korban demi keuntungan kriminal tertentu.
Love scam berbeda dengan skema penipuan umum seperti phishing atau penipuan investasi karena pelakunya membangun hubungan asmara seolah-olah sungguhan. Identitas yang digunakan biasanya palsu, dengan foto dan informasi diri yang diambil dari internet atau hasil manipulasi.
Pelaku bertujuan untuk membangun rasa percaya dan keterikatan emosional, lalu secara bertahap meminta uang, data pribadi, atau bantuan finansial dari korban dengan berbagai alasan yang meyakinkan.
Bagaimana Modus Love Scam Bekerja?
Melansir dari Unit21, Kamis, 22 Januari 2026, love romance scam umumnya dimulai ketika pelaku menghubungi target melalui aplikasi kencan atau media sosial. Dalam komunikasi awal, pelaku akan bersikap ramah, perhatian, dan seolah-olah serius menjalin hubungan. Seiring berjalannya waktu, pelaku berusaha mempercepat kedekatan emosional melalui:
- Percakapan intens dan cepat membangun ikatan
- Pujian yang berlebihan dan penekanan pada masa depan bersama
- Pemberian perhatian melalui pesan pagi dan malam hari
Setelah korban mulai merasa nyaman dan percaya, pelaku perlahan-lahan mulai memperkenalkan alasan untuk meminta bantuan finansial atau informasi pribadi. Skema permintaan ini bisa berupa berbagai alasan yang terdengar masuk akal, seperti biaya pengobatan darurat, tiket pesawat untuk datang bertemu, biaya visa atau dokumen, atau kebutuhan mendesak lain yang seolah-olah tidak bisa ditunda.
Dalam banyak kasus, korban akan terus mengikuti permintaan pelaku, bahkan melakukan transfer uang berulang kali, karena rasa cintanya dianggap sebagai bukti komitmen terhadap hubungan tersebut.
Penelitian berbagai lembaga perlindungan konsumen menunjukkan bahwa korban romance scam kerap mentransfer jumlah uang yang besar, bahkan hingga puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Motif di Balik Love Scam
Motif utama pelaku romance scam pada dasarnya bersifat keuntungan finansial dan eksploitasi emosional. Melansir dari Consumer Advice, Kamis, 22 Januari 2026, pelaku kerap memanfaatkan psikologis korban untuk mendapatkan sesuatu yang bernilai, baik berupa uang maupun akses terhadap data penting. Berikut adalah beberapa motif yang paling umum:
1. Eksploitasi Finansial

Motif yang paling sering adalah meraih keuntungan finansial secara ilegal. Pelaku menargetkan korban yang menunjukkan tanda-tanda keterikatan emosional kuat, dan mendorong korban untuk mentransfer uang melalui berbagai alasan emosional.
2. Pencurian Identitas

Selain uang, pelaku juga berusaha mendapatkan informasi pribadi seperti nomor rekening bank, password akun, atau data penting lainnya. Data ini kemudian bisa dimanfaatkan untuk kejahatan lain seperti pembobolan akun atau pencurian identitas.
3. Manipulasi Psikologis

Pelaku tidak hanya menargetkan aspek finansial, tapi juga mengeksploitasi emosi korban seperti menemani rasa kesepian, atau memenuhi kebutuhan mengenai cinta. Hal ini menjadikan korban lebih sulit menyadari bahwa dirinya sedang ditipu oleh ikatan cinta yang tidak nyata.
Ciri dan Tanda Bahaya Love Scam
Berikut adalah cara untuk mengidentifikasi ciri yang sering muncul pada love scam:
- Identitas yang terlalu sempurna untuk menarik korban.
- Ajakan secara cepat untuk membangun kedekatan dan hubungan serius dalam waktu singkat.
- Alasan berulang untuk meminta uang atau bantuan secara mendesak.
- Enggan atau menolak bertemu secara langsung.
Love scam tidak hanya mengakibatkan kerugian finansial, tetapi juga berpotensi memberikan dampak psikologis yang signifikan. Korban sering mengalami kecemasan tinggi, rasa malu, rasa bersalah, dan trauma emosional setelah menyadari bahwa hubungannya hanyalah skenario penipuan.
Kini, love scam menjadi contoh perkembangan kriminal yang berevolusi seiring perkembangan teknologi. Pelaku bukan hanya menunggu korban secara pasif, tetapi aktif membangun hubungan emosional jangka panjang untuk mengambil keuntungan finansial. Dalam konteks ini, love scam menjadi tantangan baru terkait keamanan digital dan kesehatan psikologis yang harus diperhatikan oleh masyarakat.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Maharani Dwi Puspita Sari pada 22 Jan 2026
