5 Tanda Bahaya Saham Gorengan, Waspada!

Ciri-ciri Utama Saham Gorengan yang Menjebak Investor Pemula (trenasia.com)

JAKARTA – Di tengah langkah tegas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang sedang menata ulang pasar modal untuk menjaga status Emerging Market dari potensi penurunan peringkat MSCI, laporan riset terbaru dari Samuel Sekuritas hadir sebagai referensi penting, terutama bagi investor Generasi Z.

Meningkatnya minat investor muda yang kerap terdorong rasa takut ketinggalan tren kini berhadapan dengan kenyataan pengawasan bursa yang semakin ketat. Pasalnya, hampir setengah dari total investor saham di Indonesia saat ini berasal dari Gen Z, yang sangat memerlukan pemahaman lebih mendalam mengenai risiko dalam berinvestasi.

Direktur Pelaksana PT Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, membeberkan panduan indikator deteksi dini untuk menghindari jebakan bandar di pasar modal. Beliau merumuskan peringatan keras mengenai lima karakteristik utama saham gorengan yang kerap menjebak para pendatang baru melalui skema manipulasi harga.

Ciri-ciri Utama Saham Gorengan yang Menjebak Investor Pemula

Ciri-ciri Utama Saham Gorengan yang Menjebak Investor Pemula

1. Lonjakan Harga Semu

Sebagai catatan penting, dokumen riset ini menggunakan nama samaran emiten XYZ05 guna melindungi identitas asli perusahaan di bursa efek. Penyamaran kode tersebut sengaja dilakukan oleh para peneliti Samuel Sekuritas untuk menghindari masalah hukum saat membeberkan bukti nyata dari kasus manipulasi saham tersebut.

Berdasarkan data historis, saham samaran bernama XYZ05 tersebut harganya tiba-tiba hancur sebesar 92% hanya dalam tempo 17 hari saja. Emiten XYZ06 juga mengalami nasib serupa di mana harganya seketika merosot drastis sebesar 89% dalam kurun waktu singkat pasca terjadi lonjakan harga semu.

2. Euforia Pendatang Baru

Indikator bahaya kedua menyoroti euforia saham pendatang baru dengan harga yang langsung anjlok sejak penawaran umum perdana atau IPO. Banyak investor terjebak membeli perusahaan berfundamental rapuh karena tergiur promosi masif yang dilakukan sebelum perusahaan tersebut resmi melantai untuk diperdagangkan secara umum.

Laporan Samuel Sekuritas mencatat bahwa saham XYZ01 anjlok drastis sebesar 84% hanya dalam waktu 2 bulan pasca resmi melantai di bursa. Fenomena ini menunjukkan betapa berbahayanya membeli saham IPO tanpa melakukan analisis mendalam terhadap prospek keuangan asli serta kondisi fundamental perusahaan tersebut.

3. Transaksi Mendadak Lenyap

Tanda bahaya ketiga adalah fenomena menghilang tanpa jejak, yakni kondisi hilangnya rata-rata nilai transaksi harian secara tiba-tiba di pasar. Risiko ini terjadi ketika volume transaksi mendadak melonjak sangat tajam sebelum akhirnya lenyap dan segera menghilang layaknya aktivitas sepi sebuah kuburan tua.

Kasus ekstrem terjadi pada emiten XYZ11 di mana rata-rata perputaran uangnya sempat meroket hingga ratusan ribu persen secara tidak wajar. Transaksi ini segera berbalik tajam dan turun drastis pada bulan berikutnya ketika para bandar selesai melakukan aksi distribusi saham kepada publik.

Nilai perdagangan emiten XYZ14 juga sempat melonjak pesat hingga ribuan persen namun segera anjlok hancur keesokan harinya secara tiba-tiba. Fluktuasi volume yang sangat ekstrem ini menjadi bukti nyata adanya manipulasi perdagangan yang dilakukan secara sengaja oleh pihak-pihak tertentu di pasar modal.

4. Manipulasi Porsi Publik

Karakteristik mematikan keempat menyoroti kelicikan manipulasi kepemilikan melalui ciri porsi saham publik yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Jumlah kepemilikan masyarakat yang terlalu minim akan membuat instrumen tersebut menjadi sangat rentan serta sangat mudah dipermainkan fluktuasi harga hariannya secara begitu brutal.

Peringatan keras diberikan bahwa saham beredar rendah sangat mudah dipompa dan dibanting oleh pengendali atau bandar. Kondisi manipulatif tersebut dialami emiten XYZ19 di mana kepemilikan masyarakat sengaja dijatuhkan perlahan dari porsi 19% hingga menjadi hanya tersisa 0,7% saja pada akhirnya.

Sebaliknya, porsi beredar yang meroket tajam juga patut diwaspadai, seperti perusahaan XYZ15 yang kepemilikan masyarakatnya melonjak menjadi 97%. Lonjakan tidak wajar tersebut biasanya menjadi taktik licik pengendali untuk melakukan aksi jual massal atau exit strategy kepada para investor ritel yang kurang waspada.

5. Risiko Penghapusan Bursa

Fase kelima yang mematikan adalah saat otoritas bursa secara resmi melakukan penghapusan pencatatan saham atau delisting terhadap sebuah emiten bermasalah. Sebelum benar-benar dihapus, harga saham perusahaan tersebut biasanya selalu hancur lebur tanpa menyisakan nilai yang berarti bagi para pemegang saham ritel di pasar.

Data riset menunjukkan bahwa saham XYZ09 anjlok parah hingga 89%, sementara nilai emiten XYZ10 benar-benar hancur sebesar 93% totalnya. Kerugian luar biasa ini sering kali bersifat permanen karena investor ritel tidak lagi memiliki pasar untuk memperdagangkan saham yang telah dihapus pencatatannya secara resmi tersebut.

Harry Su memberikan peringatan sangat tegas bagi pemuda mengenai bahaya laten dari karakteristik saham gorengan yang nyata terjadi. Kelima indikator ini umum memicu kerugian luar biasa bagi para pelaku pasar saham Indonesia jika tidak didasari oleh analisis teknis yang kuat serta kedisiplinan tinggi.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Alvin Bagaskara pada 18 Feb 2026 

Editor: Redaksi

Related Stories