Feature
5 Fakta Dugaan Timothy Ronald Tipu Anggota Akademi Crypto
JAKARTA – Influencer keuangan Timothy Ronald dilaporkan secara resmi ke Polda Metro Jaya atas dugaan penipuan investasi trading kripto yang diduga merugikan sejumlah pihak. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Bhudi Hermanto membenarkan adanya laporan dari pelapor berinisial Y yang saat ini masih dalam tahap awal penyelidikan.
Kasus ini menarik perhatian besar karena melibatkan sekitar 3.500 anggota komunitas Akademi Crypto dengan estimasi nilai kerugian mencapai Rp200 miliar. Mayoritas korban merupakan generasi muda berusia 18 hingga 27 tahun yang tergiur janji manis keuntungan ratusan persen secara instan.
Reputasi sosok yang dijuluki sebagai Warren Buffett Indonesia ini kini dipertaruhkan setelah sebelumnya ia dikenal sangat disiplin dalam investasi jangka panjang. Timothy dilaporkan bersama rekannya, Kalimasada, dengan sangkaan pelanggaran UU ITE serta sejumlah pasal pidana terkait penggelapan dan transfer dana.
1. Konfirmasi Resmi Polda Metro Jaya
Pihak kepolisian memastikan telah menerima laporan hukum yang menyeret nama Timothy Ronald sebagai terlapor utama. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Bhudi Hermanto, memberikan konfirmasi resmi terkait status laporan tersebut kepada media pada hari Minggu, 11 Januari 2026.
"Benar, ada laporan terkait kripto oleh pelapor berinisial Y," kata Bhudi saat memberikan keterangan resminya. Bhudi menambahkan bahwa penyidik kini tengah mendalami berkas dan bukti-bukti awal yang diajukan. Saat ini, status terlapor masih dalam tahap proses penyelidikan oleh kepolisian.
Pihak kepolisian berencana akan segera memanggil pelapor untuk memberikan keterangan lebih lanjut guna mendalami konstruksi hukum. Langkah ini diambil untuk memastikan kebenaran alat bukti dan kronologi kerugian yang dialami oleh para korban investasi tersebut di wilayah hukum DKI Jakarta.
2. Skala Kerugian Fantastis Rp200 Miliar
Laporan hukum ini bermula dari keresahan sejumlah investor yang merasa dirugikan oleh aktivitas trading kripto yang dikelola Timothy Ronald. Informasi skala kerugian ini meledak di media sosial melalui unggahan akun kolektif para korban yang mengaku sempat merasa takut untuk melapor.
Para korban akhirnya membentuk grup koordinasi dan mendatangi polisi bersama-sama setelah menduga adanya ancaman sebelumnya. Nilai kerugian individu dilaporkan mencapai miliaran rupiah dengan estimasi total akumulasi kerugian seluruh korban menembus angka Rp200 miliar dari ribuan anggota komunitas akademi tersebut.
Skala kerugian yang masif ini menjadikan kasus Timothy Ronald sebagai salah satu sorotan utama dalam industri investasi digital awal tahun 2026. Banyak pihak menyayangkan jatuhnya korban dari kalangan milenial dan Gen Z yang berniat belajar investasi namun justru terjebak kerugian besar.
3. Ironi Profil 'The Next Warren Buffett'
Kasus ini menjadi ironi besar mengingat rekam jejak Timothy Ronald yang selama ini menginspirasi banyak anak muda di Indonesia. Pria kelahiran September 2000 ini mulai terjun ke dunia investasi sejak usia 15 tahun dengan berjualan sedotan demi modal pasar modal.
Terinspirasi oleh legenda investasi Warren Buffett, Timothy kian melambung setelah mendirikan platform edukasi Ternak Uang dan kemudian Akademi Crypto. Puncak popularitasnya terjadi ketika ia dikabarkan memborong 11 juta lembar saham BBCA yang membuatnya dijuluki sebagai "The Next Warren Buffett".
Namun, narasi investasi jangka panjang yang ia gaungkan kini bersinggungan dengan dugaan penipuan trading kripto berisiko tinggi. Kontradiksi antara prinsip disiplin investasi dan janji keuntungan ratusan % secara instan inilah yang kini memicu gelombang kekecewaan di kalangan pengikut setianya.
4. Peringatan Industri dan Risiko Investasi
Melihat fenomena ini, pelaku industri kripto nasional mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap skema investasi yang tidak masuk akal. COO Upbit Indonesia, Resna Raniadi, menyatakan keprihatinannya atas peningkatan kasus penipuan yang menjanjikan keuntungan instan tanpa adanya risiko yang jelas.
"Investor harus selalu melakukan riset mandiri dan tidak mudah tergoda oleh tawaran yang tampak terlalu bagus," tutur Resna mengingatkan. Ia menekankan pentingnya memahami mekanisme bisnis sebelum menyetorkan dana, terutama pada aset kripto yang memiliki volatilitas sangat tinggi dan risiko besar.
Peringatan ini menjadi pengingat bagi publik agar lebih berhati-hati dalam memilih mentor atau platform edukasi finansial di media sosial. Edukasi yang benar harusnya mengedepankan risiko, bukan sekadar memamerkan kemewahan atau menjanjikan kekayaan instan yang justru berujung pada kerugian materiil miliaran rupiah.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Alvin Bagaskara pada 12 Jan 2026
