Feature
3 Alasan Wireless Charging Belum Bisa Gantikan Charger Berkabel
JAKARTA — Baterai ponsel yang habis saat berada di luar rumah tentu sangat merepotkan. Oleh karena itu, kini ada semakin banyak inovasi pengisian baterai yang memudahkan kita, salah satunya adalah wireless charging.
Wireless charging sendiri sebetulnya sudah menjadi fitur di smartphone selama bertahun-tahun. Meski begitu, teknologi ini masih terasa canggih karena memudahkan kamu mengisi baterai ponsel hanya dengan meletakkannya di atas alat pengisi daya tanpa perlu menggunakan kabel.
Kemudahan penggunaan dan desainnya yang simpel membuat wireless charger menarik bagi banyak orang, terutama yang bosan dengan kabel yang mudah kusut, hilang, atau cepat rusak jika kualitasnya kurang baik.
BACA JUGA: 5 Kesalahan yang Bikin Power Bank Lama Terisi Meski Sudah Pakai Fast Charging
Bahkan, kini tersedia power bank nirkabel yang memungkinkan pengguna mengisi daya ponsel saat bepergian tanpa harus membawa kabel.
Meski begitu, wireless charging juga memiliki sejumlah kekurangan, yang harus kamu waspadai seperti berikut ini.
Kelemahan Wireless Charging untuk Mengisi Daya Ponsel Secara Nirkabel

1. Sulit Menggunakan Ponsel Saat Sedang Diisi Daya
Salah satu kelemahan utama wireless charging adalah kamu tidak bisa main atau menggunakan ponsel dengan bebas selama proses pengisian daya.
Agar pengisian berjalan optimal, ponsel bahkan harus diletakkan rata di atas permukaan charger. Posisi ponsel juga harus tepat karena sedikit saja bergeser, proses pengisian bisa terganggu atau bahkan berhenti.
BACA JUGA: Bisakah Gadai HP Saat Butuh Uang? Ini Syarat dan Cara Pengajuannya
2. Kecepatan Pengisian Masih Kalah dari Charger Berkabel
Walaupun praktis, wireless charger sebetulnya masih tertinggal dalam hal kecepatan pengisian daya.
Seperti yang dilansir dari BGR, selama bertahun-tahun, wireless charger hanya mampu memberikan daya maksimal 15 watt. Baru pada 2025, melalui standar Qi2.2, kemampuan tersebut meningkat menjadi 25 watt.
Meski jauh lebih baik dibandingkan standar Qi pertama yang hanya 5 watt pada 2010, kecepatannya masih terasa lambat bagi banyak pengguna.
Namun kamu tetap bisa mengatasi hal ini salah satunya dengan cara melepas casing ponsel. Hal ini karena casing, terutama casing yang tebal karena dapat menghambat proses pengisian daya. Casing dengan ketebalan lebih dari 5 mm bahkan bisa memperlambat atau menghentikan pengisian sama sekali.
BACA JUGA: Amankah Mengisi Daya HP Menggunakan Kabel USB Murah?
3. Wireless Charging Membuat Ponsel Lebih Panas
Wireless charging memang aman digunakan, tetapi bukan berarti lebih baik untuk kesehatan baterai. Salah satu penyebabnya adalah proses pengisian ini menghasilkan panas lebih banyak dibandingkan charger berkabel.
Ponsel modern memang sudah dilengkapi sistem untuk mencegah panas berlebih. Namun, kalau ponsel terlalu sering terpapar suhu tinggi dalam waktu lama, kondisi tersebut dapat mempercepat penurunan kualitas baterai.
Akibatnya, kapasitas baterai akan menurun lebih cepat sehingga ponsel harus lebih sering diisi ulang.
Maka dari itu, melepas casing saat menggunakan wireless charger juga disarankan. Casing dapat menahan panas sehingga suhu perangkat menjadi lebih tinggi, meskipun bahannya tipis.
Selain menghasilkan lebih banyak panas, wireless charging juga kurang efisien dalam penggunaan energi. Menurut produsen aksesori Anker, efisiensi wireless charging hanya sekitar 70%, yang berarti sekitar 30% energi hilang selama proses pengisian. Hal ini terjadi karena pengisian daya dilakukan secara tidak langsung.
Energi listrik ditransfer melalui medan magnet ke kumparan di dalam ponsel, dan proses tersebut menghasilkan panas.
BACA JUGA: Charger Ketinggalan? Ini Cara Mengisi Daya HP Tanpa Charger
Itu tadi beberapa kelemahan menggunakan wireless charging yang perlu kamu ketahui sebelum membeli dan menggunakannya. Masih tertarik?
