Feature
10 Strategi bagi Investor Pemula Saat IHSG Bergejolak
JAKARTA - Saat volatilitas pasar saham yang meningkat akibat tekanan global, investor pemula disarankan untuk tetap tenang dan tidak mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.
Fluktuasi jangka pendek merupakan bagian alami dari dinamika pasar, sehingga dibutuhkan strategi yang disiplin dan terukur agar tujuan investasi tetap terjaga.
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, berikut sederet hal yang perlu dilakukan investor pemula kala terjadi votalitas tinggi di bursa saham.
BACA JUGA: Cara Investasi Saham Luar Negeri Untuk Pemula
Strategi untuk Investor Pemula Ketika Terjadi Volatilitas Tinggi di Bursa Saham

1. Hindari Panic Selling
Pelemahan IHSG yang dipicu oleh sentimen global, seperti kebijakan moneter Amerika Serikat dan penguatan dolar AS, umumnya bersifat sementara.
Menjual saham secara terburu-buru saat pasar turun berpotensi membuat investor merealisasikan kerugian yang seharusnya masih bisa dipulihkan ketika pasar kembali stabil.
Investor pemula sebaiknya mengevaluasi kembali alasan awal membeli saham tersebut sebelum mengambil keputusan menjual.
2. Fokus pada Saham Berfundamental Kuat
Saham dengan kinerja keuangan yang sehat, arus kas stabil, dan model bisnis berkelanjutan cenderung lebih tahan menghadapi gejolak pasar.
Emiten dengan fundamental kuat biasanya mampu bertahan di tengah tekanan eksternal dan memiliki peluang pemulihan lebih cepat ketika sentimen membaik. Bagi investor pemula, memilih saham berkualitas lebih penting dibandingkan mengejar keuntungan cepat.
3. Manfaatkan Koreksi Secara Bertahap
Koreksi pasar dapat menjadi peluang untuk melakukan akumulasi, terutama pada saham-saham unggulan. Namun, pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap melalui strategi average down atau average cost, bukan sekaligus dalam satu waktu. Pendekatan ini membantu mengelola risiko dan menjaga likuiditas investor tetap aman.
Baca juga : Viral, Apa Sebenarnya Minuman Biru Bebas Kafein Blue Matcha
4. Perhatikan Faktor Global
Investor pemula perlu mulai membiasakan diri memantau faktor eksternal yang memengaruhi pasar, seperti arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan indeks dolar AS, serta arus modal asing.
Pemahaman terhadap sentimen global akan membantu investor membaca arah pasar secara lebih rasional dan tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi harian.
BACA JUGA: 5 Cara Investasi Tanah, Jadi Alternatif Aset Gen Z
5. Sesuaikan Strategi dengan Profil Risiko
Setiap investor memiliki toleransi risiko yang berbeda. Jika belum nyaman menghadapi volatilitas tinggi, strategi investasi jangka menengah hingga panjang dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
Investor pemula disarankan menghindari strategi trading agresif tanpa pemahaman yang memadai, serta menyesuaikan alokasi aset dengan tujuan keuangan dan kemampuan menanggung risiko.
6. Jangan Menginvestasikan Dana Darurat
Investor pemula perlu memastikan bahwa dana yang digunakan untuk membeli saham adalah dana dingin, bukan dana darurat atau dana kebutuhan jangka pendek.
Pasar saham memiliki risiko fluktuasi, sehingga penggunaan dana darurat berpotensi menimbulkan tekanan psikologis dan memaksa investor menjual saham di waktu yang tidak tepat.
Baca juga : Naik 0,72 Persen, IHSG Hari Ini Ditutup di 8.948,30 Poin
7. Lakukan Diversifikasi Portofolio
Menempatkan seluruh dana pada satu saham atau satu sektor meningkatkan risiko kerugian. Diversifikasi ke beberapa saham, sektor, atau bahkan instrumen lain seperti reksa dana dan obligasi dapat membantu meredam dampak gejolak pasar.
Dengan portofolio yang terdiversifikasi, penurunan pada satu aset dapat diimbangi oleh kinerja aset lainnya.
8. Tentukan Tujuan dan Jangka Waktu Investasi
Investor pemula sebaiknya memiliki tujuan investasi yang jelas, apakah untuk jangka pendek, menengah, atau panjang. Penentuan jangka waktu akan memengaruhi pemilihan saham dan strategi yang digunakan.
Tanpa tujuan yang jelas, investor cenderung mudah terpengaruh oleh rumor pasar dan pergerakan harga jangka pendek.
9. Terus Tingkatkan Literasi dan Disiplin
Pasar saham menuntut proses belajar yang berkelanjutan. Investor pemula dianjurkan untuk rutin membaca laporan keuangan, mengikuti berita ekonomi, serta memahami dasar analisis fundamental dan teknikal.
Disiplin dalam menjalankan strategi jauh lebih penting dibandingkan sering berganti-ganti pendekatan karena mengikuti tren sesaat.
10. Manfaatkan Fasilitas dan Informasi Resmi
Gunakan sumber informasi yang kredibel, seperti keterbukaan informasi emiten, laporan Bursa Efek Indonesia, dan publikasi regulator.
Hindari mengambil keputusan berdasarkan rumor atau rekomendasi tanpa dasar yang jelas, terutama yang beredar di media sosial. Keputusan investasi yang berbasis data akan membantu investor pemula mengelola risiko secara lebih rasional.
Intinya, kondisi pasar yang bergejolak bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Dengan strategi yang tepat, disiplin, dan pemahaman risiko yang baik, investor pemula justru dapat menjadikan fase volatilitas sebagai bagian dari proses belajar dan membangun portofolio secara berkelanjutan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 14 Jan 2026
