PHK Massal Startup Indonesia, Masih Layak Jadi Kantor Impian?

PHK Massal Startup Indonesia, Masih Layak Jadi Kantor Impian? (Istimewa)

JAKARTA - Narasi tentang bekerja di startup dengan budaya kerja menyenangkan, tawaran saham, dan gaji yang menarik masih sering digaungkan kepada anak muda. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.

Gelombang pemutusan hubungan kerja belum juga mereda, bahkan semakin meluas. Kini, pertanyaannya bukan lagi soal kapan masa sulit di industri teknologi akan berakhir, melainkan apakah karier di startup masih relevan untuk dikejar.

BACA JUGA: Kenali Apa Itu Ilusi Pilihan yang Membuat Kita Belanja Secara Impulsif

Dilansir dari laman Layoffs.fyi, lembaga pengumpul data asal Amerika, lebih dari 90.000 karyawan startup dan perusahaan teknologi di seluruh dunia kehilangan pekerjaan, dengan sekitar 1.000 di antaranya terjadi di Indonesia, termasuk kasus ekstrem PHK massal di startup unicorn eFishery.

Di dalam negeri, angka keseluruhan jauh lebih besar, mengutip data Satudata Kementerian Ketenagakerjaan, sepanjang Januari–Juni 2025 saja terdapat 42.385 pekerja terkena PHK, meningkat 32,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jawa Tengah menjadi provinsi dengan jumlah PHK tertinggi, yakni 10.995 orang.

Memasuki 2026, situasinya tidak membaik, mengutip proyeksi ekonom Celios, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, memperkirakan korban PHK tahun ini bisa melampaui 100.000 pekerja, naik dari sekitar 88.000 orang pada tahun lalu.

Baca juga : Isu Kopdes Merah Putih & Ancaman PHK Retail Modern

Daftar startup yang terdampak panjang dan cukup mengejutkan. Tokopedia melakukan PHK massal pada Juni 2024 yang berdampak pada 450 pekerja atau sekitar 9 persen dari total karyawannya. Sementara Mekari, startup SaaS berbasis cloud, memangkas sekitar 70 karyawan atau 5 persen dari total tenaga kerjanya pada Desember 2024.

Di level global, perusahaan besar pun tidak luput. Sepanjang Januari hingga April 2026, Amazon memangkas 16.000 karyawan, Meta memangkas lebih dari 15.800, Atlassian 1.600, serta Disney dan Snap masing-masing 1.000 orang.

Bahkan perusahaan seperti Google dan Intel yang selama ini identik dengan kestabilan karier ikut melakukan restrukturisasi besar. Alasannya satu, efisiensi demi investasi AI.

AI: Ancaman Nyata, Bukan Sekadar Hype

Di sinilah faktor paling krusial yang sering diabaikan, data dari Kantor Statistik Nasional Inggris menunjukkan lowongan kerja untuk posisi yang rentan digantikan AI seperti pengembang perangkat lunak dan konsultan anjlok hingga 37%. Morgan Stanley juga mencatat perusahaan-perusahaan mulai memangkas atau tidak mengisi kembali seperempat posisi yang kosong karena efisiensi AI.

Ini bukan tren di negara Barat semata. Di Indonesia, posisi-posisi seperti QA engineer, data entry, customer service tech, dan junior developer jadi posisi yang paling terancam dalam gelombang otomatisasi berikutnya.

Krisis Kepercayaan Ekosistem Startup Lokal

Masalah startup Indonesia bukan hanya soal makroekonomi global. Ada isu struktural yang lebih dalam. Ekosistem startup Indonesia kini memasuki fase konsolidasi, pendanaan menyusut drastis, terbatas hanya di tahap seed hingga pre-Series A, bukan pendanaan besar seperti era sebelumnya. 

Talenta terbaik mulai meninggalkan startup, mencari stabilitas di perusahaan yang lebih mapan atau peluang di luar negeri. Kasus eFishery, yang terseret dugaan fraud dan manipulasi metrik, memperburuk kepercayaan investor. 

Laporan audit forensik di sejumlah kasus menemukan sebagian startup dibangun di atas metrik semu penggelembungan angka GMV, transaksi fiktif untuk menaikkan traction, hingga penggunaan dana investasi untuk menutup operasional tanpa jalur monetisasi yang jelas.

Hasilnya? Investor makin pelit, startup makin kesulitan bertahan, dan karyawan lah yang paling merasakan dampaknya.

Baca juga : Kemenperin Pastikan Tidak ada PHK di Pabrik Mie Sedaap

Jadi, Masih Worth It?

Jawabannya : tergantung posisi dan strategimu.

Kerja di startup masih bisa jadi pilihan bagus jika kamu masuk di posisi yang susah digantikan AI, product manager, growth strategist, AI engineer, atau peran yang butuh kreativitas dan judgment tinggi. Startup yang sudah di tahap Series B ke atas dengan model bisnis profitabel juga relatif lebih aman.

Yang harus dihindari : bergabung dengan startup yang masih bakar uang besar tanpa jalur profitabilitas jelas, terutama di posisi yang bersifat operasional dan repetitif. 

Dalam rapat Komisi IX DPR RI, data yang dipaparkan menunjukan sebanyak 67% perusahaan menyatakan tidak memiliki rencana rekrutmen karyawan baru dalam waktu dekat, dan 50 perusahaan lainnya bahkan memutuskan tidak melakukan ekspansi bisnis selama lima tahun ke depan.

Artinya, pasar kerja tech sedang selektif, bukan mati. Yang punya skill relevan dan adaptif masih punya peluang besar. Yang mengandalkan label "kerja di startup keren" tanpa keahlian konkret, justru yang paling rentan.

Ini bukan waktunya takut pada startup, tapi ini waktunya masuk dengan mata terbuka, pilih perusahaan yang sehat, dan pastikan skillmu tidak mudah dirobotisasi.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 22 Apr 2026 

Editor: Redaksi

Related Stories