Meneropong Dampak Pembangunan Data Center Dekat Waduk Jatiluhur

Meneropong Dampak Pembangunan Data Center Dekat Waduk Jatiluhur (Perum Jasa Tirta)

JAKARTA–BDx Data Centers tengah mengembangkan AI Campus 2 atau CGK4 di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, yang dirancang memiliki kapasitas hingga 640 megawatt (MW). Pusat data berskala besar tersebut ditujukan untuk mendukung kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI) serta layanan hyperscale di Indonesia.

Pembangunan CGK4 berpotensi menambah kapasitas infrastruktur digital nasional sekaligus mendukung perkembangan industri AI. Meski demikian, proyek ini juga menghadapi sejumlah aspek yang perlu menjadi perhatian, khususnya kebutuhan listrik dan air. Hal tersebut menjadi semakin relevan karena lokasi proyek berada di tengah kondisi musim kemarau yang berlangsung lebih kering dari biasanya.

BDx menyebut CGK4 memiliki luas lahan sekitar 111.000 meter persegi dengan luas bangunan bruto mencapai 180.000 meter persegi. Kampus tersebut dirancang dengan kapasitas IT 640 MW dan mendapatkan pasokan listrik sebesar 845 MVA dari PLN.

Fasilitas pertama dalam kampus tersebut memiliki kapasitas 120 MW dan ditargetkan mulai beroperasi pada awal 2027. Pengembangan CGK4 dilakukan secara bertahap dengan bangunan yang akan dioperasikan secara berurutan.

Baca juga : Hanya 7 Saham yang Naik Pembukaan LQ45 Hari Ini, Ada ASII

Mengapa Pusat Data AI Membutuhkan Air?

CGK4 berlokasi di Jatiluhur, Purwakarta, sekitar 5 kilometer dari Bendungan Jatiluhur atau Waduk Jatiluhur. Lokasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dari pengembangan pusat data karena kawasan Jatiluhur memiliki infrastruktur energi dan sumber daya air yang besar. 

BDx juga tengah mengeksplorasi pemanfaatan energi bersih, termasuk potensi kerja sama tenaga air dengan Perum Jasa Tirta II.

Untuk kebutuhan komputasi AI dengan kepadatan tinggi, fasilitas awal CGK4 akan menggunakan teknologi direct-to-chip liquid cooling. Teknologi tersebut dirancang untuk menangani kepadatan hingga 500 kilowatt (kW) per rak, sesuai dengan kebutuhan server AI berperforma tinggi.

Namun, penggunaan teknologi pendinginan cair tidak serta-merta berarti sebuah pusat data bebas dari kebutuhan air. Kebutuhan air sangat bergantung pada desain sistem pendinginan, sumber air, sistem sirkulasi, serta apakah fasilitas menggunakan pendinginan evaporatif atau sistem yang meminimalkan penguapan.

Karena itu, besarnya kebutuhan air CGK4 tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan kapasitas listrik 640 MW. Angka konsumsi air aktual fasilitas tersebut perlu dilihat dari desain dan data operasional perusahaan.

Pertumbuhan AI membuat pusat data semakin membutuhkan listrik dan sistem pendinginan dengan kapasitas tinggi.

Server yang menjalankan model AI menghasilkan panas dalam jumlah besar. Panas tersebut harus dipindahkan dari perangkat agar server tetap bekerja pada temperatur yang aman.

Air menjadi salah satu media yang dapat digunakan untuk proses pendinginan. Dalam sistem tertentu, sebagian air dapat hilang melalui proses evaporasi. Selain penggunaan langsung di pusat data, terdapat pula jejak air tidak langsung dari pembangkitan listrik yang memasok energi ke fasilitas tersebut.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Water Research memperkirakan jejak air global AI dapat mencapai 4,2–6,6 miliar meter kubik per tahun pada 2027. Studi tersebut juga menyebut sekitar dua pertiga pusat data yang dibangun setelah 2022 berada di wilayah yang mengalami tekanan air.

Namun, angka tersebut merupakan estimasi global dan bukan konsumsi air CGK4. Besarnya kebutuhan air masing-masing pusat data dapat berbeda secara signifikan berdasarkan teknologi pendinginan, iklim, efisiensi fasilitas, sumber air dan sumber listrik.

Baca juga : Perlu Transformasi Ekonomi untuk Lepas dari Ketergantungan Tambang

AI dan Masyarakat Berebut Air

Persoalan penggunaan air menjadi semakin relevan karena Indonesia menghadapi musim kemarau yang lebih kering dari kondisi normal pada 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prediksi musim kemarau 2026 memperkirakan 451 Zona Musim (ZOM) atau 64,5% ZOM mengalami curah hujan di bawah normal. Sebanyak 400 ZOM atau 57,2% juga diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal.

Dalam pembaruan Juni 2026, BMKG juga mencatat 482 ZOM atau 56,18% luas daratan Indonesia diprediksi mengalami kondisi kemarau bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Sebanyak 437 ZOM atau 48,77% luas daratan diprediksi mengalami durasi musim kemarau lebih panjang dari normal.

Pada pertengahan Juli 2026, BMKG menyatakan sebagian besar wilayah Indonesia masih menghadapi kondisi kemarau lebih kering dari normal, sementara curah hujan kategori tinggi baru diperkirakan mulai muncul secara bertahap pada Oktober-November 2026.

Kondisi tersebut membuat ketersediaan air menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam pembangunan industri dengan kebutuhan utilitas berskala besar, termasuk pusat data.

Waduk Jatiluhur bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan industri. Infrastruktur tersebut memiliki fungsi penting bagi berbagai kebutuhan, termasuk penyediaan air, irigasi dan pembangkitan listrik.

Karena itu, penambahan aktivitas industri di sekitar kawasan Jatiluhur perlu ditempatkan dalam konteks pengelolaan sumber daya air secara keseluruhan.

Persoalannya bukan semata-mata apakah satu pusat data menggunakan banyak atau sedikit air, tetapi berapa besar tambahan kebutuhan air yang muncul dibandingkan ketersediaan air pada musim kemarau serta bagaimana kebutuhan tersebut dibandingkan dengan kebutuhan sektor lain.

Hal ini menjadi semakin penting apabila terjadi periode kemarau panjang ketika debit sumber air mengalami penurunan. Kebutuhan industri dan kebutuhan masyarakat dapat berada dalam sistem sumber daya air yang sama. 

Air di kawasan Jatiluhur memiliki fungsi yang berkaitan dengan berbagai sektor, termasuk pertanian dan energi. Ketika ketersediaan air turun, kebutuhan masing-masing sektor harus dikelola agar tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap sumber daya yang sama.

Pusat data membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Pada saat yang sama, sebagian pembangkit listrik juga membutuhkan air dalam proses pembangkitan atau pendinginan, tergantung teknologi yang digunakan.

Artinya, tekanan terhadap sumber daya air dapat menciptakan hubungan berantai antara air, listrik, industri digital dan pertanian. Jika kebutuhan air meningkat tanpa diimbangi pengelolaan yang memadai, potensi konfliknya bukan hanya antara pusat data dan masyarakat, tetapi juga antarsektor pengguna air.

Baca juga : 1 Juta Ha Lahan untuk Genjot Bioetanol dari Tebu dan Singkong

Transparansi Konsumsi Air Menjadi Penting

Besarnya investasi dan kapasitas listrik CGK4 membuat transparansi penggunaan air menjadi informasi yang relevan bagi publik. Saat ini perhatian terhadap konsumsi air pusat data juga meningkat di berbagai negara. 

Uni Eropa, misalnya, pada September 2026 mengusulkan aturan yang mewajibkan pusat data tertentu mengungkap informasi mengenai efisiensi energi dan air serta hubungannya dengan kondisi tekanan air di lokasi fasilitas.

Bagi Indonesia, transparansi semacam itu dapat membantu pemerintah dan masyarakat mengetahui seberapa besar kebutuhan air industri pusat data dibandingkan ketersediaan sumber air di wilayah operasinya.

Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk mengukur apakah pertumbuhan industri AI berjalan sejalan dengan kapasitas sumber daya lokal.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 24 Sep 2026 

Editor: Redaksi

Related Stories