Gunakan Semut di Hidangan, Pemilik Restoran Michelin Ini Terancam Dipenjara

Gunakan Semut di Hidangan, Pemilik Restoran Michelin Ini Terancam Dipenjara (pixabay.com/SandeepHanda)

JAKARTA — Tidak semua bahan makanan yang dianggap unik bisa digunakan begitu saja untuk dihidangkan di restoran. Kalau salah, bisa-bisa hal yang terjadi pada pemilik restoran berbintang Michelin di Korea Selatan ini juga terjadi pada kamu.

Seperti yang dilansir dari BBC News, baru-baru ini seorang pemilik restoran berbintang Michelin dituntun hukuman penjara selama satu tahun oleh Jaksa di Korea Selatan karena menyajikan semut sebagai hiasan atau garnish pada hidangan penutup.

Mengapa hal ini bisa jadi masalah? Hal ini karena di Korsel, semut tidak termasuk dalam 10 jenis serangga yang diizinkan untuk dikonsumsi manusia berdasarkan peraturan yang berlaku.

BACA JUGA: Ternyata Ini Deretan Penguasa Bisnis Daging Sapi di Indonesia

Daftar serangga yang diperbolehkan untuk dikonsumsi seperti belalang, belalang sembah (locust), dan jangkrik berbintik dua (two-spotted cricket).

Selain menuntut hukuman penjara, jaksa juga meminta agar restoran berbintang dua Michelin itu dikenai denda sebesar 20 juta won Korea Selatan, setara sekitar Rp237 juta.

Sajian Semut Sebagai Garnish di Hidangan

Gunakan Semut di Hidangan, Pemilik Restoran Michelin Ini Terancam Dipenjara

Pemilik restoran Michelin tersebut mengaku memang mereka menyajikan semut. Akan tetapi, ia beralasan bahwa semut hanya digunakan pada sebagian kecil dari menu degustasi 15 hidangan, tepatnya sebagai taburan di atas sorbet.

Pemilik restoran juga mengatakan bahwa pelanggan diberi pilihan untuk mengganti taburan semut dengan bahan lain.

Kasus ini terungkap setelah petugas dari Kementerian Keamanan Pangan dan Obat Korea Selatan menemukan ulasan pelanggan di internet yang menampilkan foto hidangan dengan taburan semut.

BACA JUGA: 11 Kebiasaan yang Diam-diam Merusak Kesehatanmu Menurut Dokter, Waspada!

Berdasarkan hasil penyelidikan, sekitar 49.000 ekor semut yang diimpor dari Amerika Serikat dan Thailand telah digunakan dalam berbagai hidangan selama empat tahun.

Seperti yang dilaporkan oleh The Chosun Daily, otoritas kesehatan juga menemukan bahwa semut yang digunakan restoran tersebut mengandung logam berat hingga 55 kali lebih tinggi dibandingkan serangga yang umumnya diizinkan untuk dikonsumsi.

Di Korea Selatan, pemerintah mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menyetujui suatu jenis serangga sebagai bahan pangan. Faktor-faktor tersebut meliputi risiko keamanan pangan, tingkat racun, nilai gizi, serta apakah serangga tersebut dapat dibudidayakan dan diolah secara higienis.

BACA JUGA: Kenali Tren Slow Jogging, Benarkah Lebih Bermanfaat untuk Kesehatan?

Pemilik restoran Michelin tersebut mengaku memang mereka menyajikan semut. Akan tetapi, ia beralasan bahwa semut hanya digunakan pada sebagian kecil dari menu degustasi 15 hidangan, tepatnya sebagai taburan di atas sorbet.

Sebagai pembelaan, pemilik restoran mengatakan bahwa hanya sekitar 60% pelanggan yang memilih mencoba semut, sementara sisanya disajikan alternatif lain seperti cuka fermentasi dan bunga yang dapat dimakan (edible flowers).

Ia juga menambahkan bahwa restoran di beberapa negara lain, seperti Australia, Denmark, dan Inggris, juga menggunakan semut sebagai salah satu bahan masakan.

BACA JUGA: Daftar Penguasa Bisnis Daging Ayam di Indonesia, Ini Peta Usahanya

Itu tadi kasus seorang pemilik restoran Michelin di Korea Selatan yang akhirnya terancam hukuman penjara akibat menyajikan semut sebagai garnish di hidangan.

Justina Nur Landhiani

Justina Nur Landhiani

Lihat semua artikel

Related Stories