Perubahan Iklim
Kamis, 05 Februari 2026 15:05 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - Kebiasaan harian yang sering dianggap remeh, seperti lupa mematikan lampu atau membiarkan alat elektronik tetap menyala saat tidak dipakai, sebenarnya memberi dampak signifikan terhadap lingkungan, terutama jika dikaitkan dengan sistem kelistrikan di Indonesia.
Aktivitas rumah tangga yang terlihat sepele ini ikut menyumbang dalam mata rantai konsumsi energi nasional, yang pada akhirnya memicu peningkatan polusi dan emisi karbon. Hal ini terjadi karena pasokan listrik di Indonesia masih sangat bergantung pada sumber energi fosil.
Hingga saat ini, ketergantungan Indonesia pada pembangkit listrik berbahan bakar batubara masih tergolong tinggi. Pada 2023, lebih dari 61 persen listrik nasional diproduksi dari batubara, sementara porsi energi terbarukan masih belum mencapai 15 persen.
Ketergantungan ini menjadikan sektor kelistrikan sebagai salah satu penyumbang utama emisi karbon dioksida dan polusi udara, sekaligus memperbesar dampak lingkungan dari setiap peningkatan konsumsi listrik masyarakat.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring
Penggunaan AC secara berlebihan, misalnya, menjadi salah satu penyumbang lonjakan konsumsi listrik rumah tangga, terutama di kawasan perkotaan.
Beban listrik yang meningkat ini pada akhirnya harus dipenuhi oleh sistem kelistrikan nasional yang masih didominasi PLTU berbahan bakar batubara, sehingga berujung pada peningkatan pembakaran batubara dan emisi gas rumah kaca.
Dalam laporan berjudul “Toxic Twenty: Daftar Hitam 20 PLTU Paling Berbahaya di Indonesia” yang diluncurkan oleh Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) PLTU batubara dikenal sebagai penghasil emisi CO₂, sulfur dioksida, nitrogen oksida, serta partikel halus yang berdampak buruk bagi kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Padahal secara kumulatif, pembangkit listrik berbahan bakar batubara di Indonesia diperkirakan menghasilkan ratusan juta ton emisi CO₂ setiap tahun.
Di saat yang sama, kebiasaan menggunakan kendaraan pribadi untuk jarak pendek turut memperparah pencemaran udara perkotaan melalui emisi gas buang kendaraan bermotor.
Kebiasaan boros air juga sering luput dari perhatian sebagai faktor perusak lingkungan. Air bersih membutuhkan proses panjang mulai dari pengambilan, pemompaan, hingga pengolahan sebelum sampai ke rumah tangga, dan seluruh proses tersebut bergantung pada pasokan energi listrik.
Semakin besar konsumsi air, semakin tinggi pula kebutuhan energi untuk mengoperasikan instalasi pengolahan air dan pompa distribusi. Dalam konteks Indonesia, hal ini kembali bermuara pada meningkatnya beban PLTU batubara yang menjadi tulang punggung pasokan listrik nasional.
Di sisi lain, pengelolaan sampah rumah tangga yang buruk turut menyumbang persoalan lingkungan yang tidak kalah serius. Sampah yang tidak dipilah, terutama sampah organik, akan menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) dan mengalami proses pembusukan yang menghasilkan gas metana.
Gas ini memiliki potensi pemanasan global yang jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO₂), sehingga berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim apabila dilepaskan ke atmosfer tanpa pengelolaan yang memadai.
Baca juga : Emisi Global Makin Tinggi, Alarm Iklim Kian Nyaring
Ketika kebiasaan-kebiasaan tersebut dilakukan secara massal oleh jutaan orang setiap hari, dampak lingkungannya menjadi berlipat ganda. Konsumsi energi yang tidak efisien pada skala rumah tangga, jika diakumulasikan secara nasional, mendorong peningkatan produksi listrik berbasis batubara dan memperbesar volume emisi serta pencemaran.
Selama sistem kelistrikan Indonesia masih bertumpu pada PLTU, pola konsumsi yang boros akan terus memperpanjang siklus ketergantungan terhadap energi fosil.
Dalam konteks ini, perubahan perilaku di tingkat individu tetap memiliki peran strategis sebagai bagian dari solusi jangka pendek. Langkah sederhana seperti mematikan listrik saat tidak digunakan, mengatur suhu AC secara bijak, menghemat penggunaan air, memilah sampah sejak dari rumah, serta memilih peralatan listrik hemat energi dapat membantu menekan permintaan listrik nasional.
Upaya-upaya kecil tersebut memang tidak serta-merta menghapus ketergantungan pada batubara, namun dapat mengurangi laju peningkatan emisi dan beban pencemaran, sambil menunggu percepatan transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 30 Jan 2026