Saat IHSG Rontok, Saham PACK Milik Haji Isam Justru Melonjak

Selasa, 19 Mei 2026 11:59 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

Saat IHSG Rontok, Saham PACK Milik Haji Isam Justru Melonjak
Saat IHSG Rontok, Saham PACK Milik Haji Isam Justru Melonjak (Dok/Istimewas)

JAKARTA - Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tekanan besar yang disebut menjadi salah satu kondisi terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level 6.470 pada penutupan sesi I perdagangan 18 Mei 2026, sementara nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh rekor Rp17.597 per dolar AS. Pelemahan ini dipengaruhi oleh rebalancing MSCI serta sentimen global yang semakin negatif.

Di tengah badai tersebut, satu saham tampil beda. Sepanjang 2026, saham PACK atau PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk sudah melesat 110 %, dalam sebulan terakhir saja emiten pertambangan dan perdagangan nikel ini mencatatkan kenaikan 64,21%.

Siapa Sebenarnya PACK?

Banyak yang masih mengenalnya sebagai perusahaan kemasan, tapi PACK yang sekarang sudah berbeda total.

PACK sebelumnya bernama PT Solusi Kemasan Digital Tbk. Setelah diakuisisi oleh pemilik baru, perusahaan mengalihkan fokus bisnisnya ke komoditas energi kini beroperasi sebagai holding company dengan fokus pada sektor pertambangan dan perdagangan nikel.

Transformasi ini bukan proses instan. Prosesnya panjang dan sempat membuat investor lari. Pemicu kenaikan paling baru dan paling keras datang pada 13 Mei 2026.

Nama crazy rich asal Kalimantan, Samsudin Andi Arsyad atau Haji Isam, resmi masuk ke PACK dengan membeli 6.836.867.700 lembar saham atau setara 21,12% kepemilikan pada harga Rp137 per saham, menggelontorkan dana sebesar Rp936,65 miliar. Sebelumnya, Haji Isam tidak memiliki satu pun saham PACK.

Menyusul aksi beli tersebut, saham PACK langsung menguat hingga Auto Reject Atas (ARA) 9,86% ke harga Rp312 per saham. Volume perdagangan PACK pada hari itu tercatat 645,12 miliar dengan nilai transaksi Rp196,78 miliar.

Baca juga : IHSG Ambruk ke 6.400, Ini 5 Faktor yang Bikin Pasar Rontok

Rencana Besar: Akuisisi Dua Tambang Nikel

Di balik hiruk-pikuk kenaikan harga saham, ada agenda besar yang sedang dijalankan manajemen PACK.

PACK berencana menggunakan dana hasil rights issue berbentuk Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp3,25 triliun. Sekitar 86,76% dana akan dialokasikan untuk pinjaman kepada entitas anak PT Adhi Prakarsa Raya dan PT Sumber Cahaya Raya guna mendanai pembelian saham PT Konutara Sejati dan PT Karyatama Konawe Utara dari Denway Development Limited.

Nilai transaksinya tidak kecil. PACK berencana membeli masing-masing 30% saham PT Konutara Sejati senilai USD68,7 juta dan 34,5% saham PT Karyatama Konawe Utara senilai USD100,08 juta, dengan total transaksi sekitar USD168,78 juta atau lebih dari Rp2,7 triliun.

Kondisi Tambang yang Diincar

Ini bagian yang menarik untuk didalami., kedua perusahaan target punya track record keuangan yang tidak bisa diabaikan.

Pada semester I-2025, PT Konutara Sejati membukukan penjualan Rp331,8 miliar dengan laba bersih Rp55,5 miliar. Sementara PT Karyatama Konawe Utara mencatat penjualan Rp630 miliar dengan laba bersih Rp157,7 miliar.

Kalau diannualized, gabungan laba bersih keduanya bisa mencapai sekitar Rp426 miliar per tahun, angka yang cukup signifikan untuk ukuran tambang nikel kelas menengah. Penilai independen Kusnanto & Rekan menyatakan rencana perubahan usaha maupun akuisisi tersebut layak secara bisnis dan wajar dari sisi valuasi.

Ada Risiko yang Perlu Kamu Tahu

Kenaikan 110% itu memukau. Tapi sebelum ikut-ikutan masuk, ada beberapa hal yang wajib dipahami:

Valuasi sudah premium

Valuasi PACK pasca-rights issue dinilai mahal. Estimasi P/E sekitar 21 kali dan PBV sangat tinggi di sekitar 28,8 kali, jauh di atas rata-rata industri mencerminkan ekspektasi yang sangat tinggi dan risiko valuasi.

Dilusi saham sangat besar

Aksi korporasi OWK ini akan memberikan tambahan ekuitas besar, namun bagi pemegang saham yang tidak berpartisipasi, kepemilikan bisa terdilusi hingga 95,58 persen. Ini bukan angka main-main.

Bisnis masih dalam transisi

PACK baru saja berganti haluan dari industri kemasan ke tambang nikel. Transformasi bisnis skala ini butuh waktu untuk menghasilkan pendapatan nyata yang bisa dirasakan di laporan keuangan konsolidasi. Prospek jangka panjang akan sangat bergantung pada kinerja tambang dan tren harga nikel global, kemungkinan baru terlihat dari tahun 2026–2027.

Baca juga : Indeks LQ45 Berdarah, CUAN dan AMMN Terjun Bebas di Pembukaan

Sentimen OWK sempat bikin pasar lari

Bukan rahasia bahwa investor sempat bereaksi negatif besar-besaran ketika rencana OWK pertama kali diumumkan pada Agustus 2025. Kini sentimen berbalik arah dipicu masuknya Haji Isam dan ekspektasi terhadap tambang nikel, tapi sentimen bisa berbalik lagi kapan saja.

Peta Kepemilikan Saat Ini

Setelah transaksi Haji Isam, peta kepemilikan PACK kini terbentuk:

  • PT Eco Energi Perkasa (EEP) : pemegang pengendali dengan 47,16% saham, entitas yang penerima manfaat akhirnya adalah Deng Weiming, petinggi CNGR Advanced Material asal China, produsen komponen baterai lithium yang bermitra dengan Tesla, LG Chem, dan CATL.
  • Haji Isam (Jhonlin Group) : baru masuk dengan 21,12% per 13 Mei 2026.
  • Publik : sisanya.

Dua nama besar dengan kepentingan berbeda kini duduk di meja yang sama di PACK, bisa jadi kekuatan atau sumber gesekan ke depan.

Saham Spekulatif Berbalut Cerita Besar

PACK merupakan cerita yang menarik transformasi bisnis besar, dua pemegang saham kakap, dan target tambang nikel dengan kinerja solid. Semua elemen untuk saham yang "hype" sudah ada.

Tapi fundamentalnya masih dalam proses dibangun. Kenaikan 110% YTD lebih banyak didorong sentimen dan aksi korporasi ketimbang laba operasional nyata yang sudah terbukti di buku besar perusahaan.

Bagi investor dengan toleransi risiko tinggi dan horizon jangka panjang, PACK bisa menjadi taruhan menarik jika akuisisi tambang berjalan sesuai rencana dan harga nikel kembali pulih. 

Tapi bagi yang tidak siap menghadapi volatilitas ekstrem dan risiko dilusi besar, saham ini butuh pengawasan ketat bukan sekadar FOMO karena harganya sudah naik 110%.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 18 May 2026