Dolar
Kamis, 08 Oktober 2026 16:22 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA —Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar AS di pembukaan perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026. Rupiah terangkat 16 poin (0,09%) ke posisi Rp17.871 per dolar AS dari yang sebelumnya Rp17.887. Kenaikan ini meneruskan tren positif rupiah selama dua hari berturut-turut, setelah pada Rabu, 7 Oktober 2026 juga ditutup menguat 12 poin (0,07%) dari level Rp17.899 ke Rp17.887 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan salah satu sentimen yang menopang rupiah berasal dari kondisi cadangan devisa Indonesia yang masih kuat.
Berdasarkan data yang disampaikan, cadangan devisa Indonesia pada September 2026 mencapai US$146,3 miliar. Posisi tersebut sedikit turun dibandingkan Agustus yang mencapai US$146,5 miliar.
Meski demikian, Amru menilai level cadangan devisa tersebut masih menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia yang relatif kuat.
“Posisi tersebut masih setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan,” jelas Amru, dikutip Antara, Rabu.
Besarnya cadangan devisa menjadi salah satu bantalan bagi stabilitas rupiah ketika pasar menghadapi tekanan eksternal. Posisi tersebut juga memberikan ruang bagi otoritas untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing ketika terjadi peningkatan volatilitas.
Dengan demikian, meski cadangan devisa September sedikit turun secara bulanan, levelnya masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang menjadi acuan.
Selain faktor domestik, rupiah mendapatkan dorongan dari pelemahan dolar AS di pasar global.
Amru mengatakan dolar AS melemah seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve atau The Fed dapat mengambil sikap yang lebih dovish.
Sikap dovish mengacu pada kecenderungan bank sentral untuk menerapkan atau mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar, termasuk melalui suku bunga yang lebih rendah.
Ekspektasi tersebut dapat mengurangi daya tarik aset berbasis dolar AS. Ketika ekspektasi suku bunga AS menurun, sebagian investor dapat mengalihkan perhatian ke aset negara lain yang menawarkan prospek imbal hasil lebih menarik.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat terhadap dolar AS.
Meski sentimen saat ini cenderung positif, ruang penguatan rupiah masih berpotensi terbatas. Pasar masih menunggu petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Salah satu perhatian utama investor adalah risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) atau FOMC Minutes. “Pasar saat ini juga masih menunggu risalah rapat The Fed untuk melihat arah kebijakan suku bunga ke depan,” kata Amru.
Isi risalah akan menjadi salah satu petunjuk mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap inflasi, pasar tenaga kerja, dan arah suku bunga AS.
Jika risalah menunjukkan kecenderungan lebih dovish, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berlanjut dan membuka ruang bagi rupiah untuk menguat lebih jauh.
Sebaliknya, sinyal hawkish dari The Fed dapat kembali meningkatkan daya tarik dolar AS dan membatasi penguatan rupiah.
Penguatan rupiah dapat membantu mengurangi biaya dalam rupiah untuk memperoleh barang atau bahan baku yang dibayar menggunakan dolar AS. Dampaknya dapat terasa terutama pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap komponen impor.
Namun, perubahan kurs tidak secara otomatis langsung diteruskan ke harga konsumen. Dampaknya juga bergantung pada harga komoditas global, biaya distribusi, struktur biaya perusahaan, serta kebijakan harga.
Investor perlu mencermati FOMC Minutes, pergerakan dolar AS, serta perkembangan cadangan devisa dan pasar keuangan domestik.
Penguatan rupiah selama dua hari terakhir menunjukkan sentimen yang relatif positif, tetapi arah selanjutnya masih bergantung pada bagaimana pasar menerjemahkan sinyal kebijakan The Fed.
Untuk saat ini, kombinasi cadangan devisa yang masih kuat dan ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih longgar menjadi dua faktor yang memberikan bantalan bagi rupiah.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 08 Oct 2026