Dolar
Rabu, 07 Oktober 2026 17:02 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA —Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026. Rupiah menguat 33 poin atau sekitar 0,18% ke posisi Rp17.866 per dolar AS.
Penguatan tersebut melanjutkan kinerja positif rupiah setelah pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026, mata uang Rupiah ditutup di level Rp17.899 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih bergerak menguat pada perdagangan pagi ini.
Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi mengatakan penguatan rupiah tidak terlepas dari semakin kecilnya peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Menurut Ibrahim, sejumlah indikator ekonomi AS menunjukkan pelemahan, terutama dari sisi ketenagakerjaan dan inflasi. Kondisi tersebut mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 27–28 Oktober 2026.
“Data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang,” kata Ibrahim, dikutip Antara, Selasa.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian pasar adalah Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, yang menjadi salah satu ukuran inflasi yang diperhatikan The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
PCE Price Index tercatat sebesar 3,4% secara tahunan (year on year/yoy) pada Agustus 2026, lebih rendah dibandingkan konsensus pasar sebesar 3,7% yoy.
Tekanan terhadap dolar AS juga datang dari perkembangan pasar tenaga kerja. Data nonfarm payrolls (NFP) menunjukkan penambahan hanya 29.000 lapangan kerja pada September 2026, jauh di bawah ekspektasi ekonom.
Pada saat yang sama, tingkat pengangguran AS meningkat menjadi 4,2% pada September dari 4,1% pada Agustus. Kombinasi pertumbuhan lapangan kerja yang rendah dan kenaikan tingkat pengangguran memberikan sinyal bahwa momentum pasar tenaga kerja AS mulai melemah.
Bagi pasar keuangan, kondisi tersebut dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga. Ekspektasi suku bunga AS yang lebih rendah atau tidak meningkat dapat mengurangi daya tarik aset berbasis dolar dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sentimen positif terhadap rupiah juga datang dari prospek perekonomian domestik. Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2%, naik 0,5 poin persentase dari proyeksi sebelumnya.
Kenaikan proyeksi tersebut menunjukkan adanya pandangan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang relatif kuat di tengah berbagai tantangan global.
Ibrahim mengatakan peningkatan pertumbuhan tersebut antara lain mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun.
“Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen Ramadhan dan Idul Fitri yang datang lebih awal, pencairan THR dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program Makan Bergizi Gratis disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal,” ujarnya.
Penguatan rupiah terhadap dolar AS dapat membantu mengurangi tekanan biaya untuk barang, bahan baku, maupun komponen produksi yang masih bergantung pada impor.
Jika penguatan rupiah berlangsung lebih konsisten, biaya dalam rupiah untuk memperoleh barang yang dibayar menggunakan dolar AS dapat menjadi lebih rendah. Namun, dampaknya terhadap harga konsumen tetap bergantung pada harga komoditas global, biaya distribusi, serta kebijakan harga di dalam negeri.
Di sisi lain, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik dapat menjadi sinyal bahwa aktivitas konsumsi dan belanja domestik masih menjadi penopang ekonomi.
Investor perlu mencermati perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed menjelang pertemuan FOMC pada akhir Oktober. Data inflasi dan ketenagakerjaan AS akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah ekspektasi tersebut.
Di dalam negeri, prospek pertumbuhan ekonomi dan pergerakan IHSG juga menjadi indikator sentimen terhadap aset Indonesia.
Dengan demikian, penguatan rupiah pada perdagangan Rabu tidak hanya dipengaruhi faktor teknikal, tetapi juga perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS dan membaiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 07 Oct 2026