Rupiah Melemah, Sinyal Kenaikan Bunga The Fed Bikin Pasar Tertekan

Selasa, 13 Oktober 2026 12:30 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

Rupiah Melemah, Sinyal Kenaikan Bunga The Fed Bikin Pasar Tertekan
Rupiah Melemah, Sinyal Kenaikan Bunga The Fed Bikin Pasar Tertekan (Istimewa8. )

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali dibuka melemah pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Rupiah terkoreksi 26 poin atau sekitar 0,15% ke posisi Rp17.939 per dolar AS.

Kondisi ini memperpanjang pelemahan rupiah yang terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Senin, 12 Oktober 2026, rupiah ditutup turun 14 poin atau sekitar 0,08%, dari Rp17.899 menjadi Rp17.913 per dolar AS.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga bergerak melemah ke level 5.914,98. Pergerakan kedua instrumen tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian global, terutama terkait arah kebijakan suku bunga AS dan perkembangan geopolitik internasional.

Analis mata uang sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

“Pernyataan terbaru dari pejabat The Fed juga membuka peluang bagi kenaikan suku bunga lebih lanjut,” kata Ibrahim, dikutip Antara, Senin.

Sinyal Hawkish The Fed Dorong Dolar AS

Salah satu pejabat yang menyampaikan pandangan mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan moneter adalah Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis Alberto Musalem. Ia menilai pengetatan lebih lanjut mungkin diperlukan untuk membawa inflasi AS kembali ke target 2%.

Pandangan serupa disampaikan Gubernur The Fed Christopher Waller. Ia mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan dapat diperlukan untuk menekan inflasi lebih cepat apabila data ekonomi berkembang sesuai perkiraan.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian pasar karena suku bunga AS berpengaruh terhadap aliran modal internasional. Jika The Fed menaikkan suku bunga, aset keuangan berbasis dolar AS berpotensi menawarkan imbal hasil yang lebih menarik bagi investor.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terutama jika investor mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar.

Namun, arah kebijakan The Fed tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi, khususnya inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.

Investor Menanti Data Inflasi dan Penjualan Ritel AS

Pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang dirilis sepanjang pekan ini. Data yang menjadi perhatian meliputi inflasi konsumen, inflasi produsen, dan penjualan ritel, serta pernyataan lanjutan dari pejabat The Fed.

Data inflasi akan memberikan gambaran mengenai perkembangan tekanan harga di AS. Apabila inflasi masih tinggi, ekspektasi suku bunga yang ketat dapat bertahan lebih lama.

Sebaliknya, penurunan inflasi yang lebih meyakinkan berpotensi mengurangi tekanan bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga.

Sementara itu, data penjualan ritel dapat memberikan petunjuk mengenai kekuatan konsumsi rumah tangga AS. Konsumsi yang kuat berpotensi menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masih bertahan, sedangkan perlambatan dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter.

Karena itu, rangkaian data tersebut dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan menentukan ruang penguatan atau pelemahan rupiah dalam beberapa hari mendatang.

Risiko Geopolitik Masih Membayangi Pasar

Selain kebijakan moneter, perkembangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina turut menjadi perhatian investor.

Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan kehati-hatian pelaku pasar dan mendorong pergeseran investasi ke aset yang dinilai lebih aman, termasuk dolar AS. Perubahan sentimen tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Meski demikian, besarnya pengaruh faktor geopolitik terhadap rupiah bergantung pada perkembangan konflik, respons pasar global, serta dampaknya terhadap harga komoditas dan arus modal.

Apa Artinya bagi Masyarakat?

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya dalam rupiah untuk membeli barang, bahan baku, atau komponen produksi yang dibayar menggunakan dolar AS.

Dampaknya dapat terasa pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor. Namun, perubahan kurs tidak otomatis langsung menaikkan harga konsumen karena masih dipengaruhi kontrak pembelian, biaya distribusi, dan kebijakan harga perusahaan.

Yang Perlu Dipantau Investor

Investor perlu mencermati tiga faktor utama, yakni pernyataan pejabat The Fed, rilis data inflasi dan penjualan ritel AS, serta perkembangan konflik Rusia-Ukraina.

Pelemahan rupiah selama dua hari perdagangan menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih membayangi pasar keuangan domestik. Meski demikian, arah selanjutnya akan bergantung pada perubahan ekspektasi suku bunga AS dan respons investor terhadap perkembangan ekonomi global.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 13 Oct 2026