BI
Jumat, 25 September 2026 14:06 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA — Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di zona pelemahan pada awal perdagangan Jumat, 25 September 2026. Rupiah turun 17 poin atau sekitar 0,09% ke posisi Rp17.933 per dolar AS.
Pelemahan tersebut meneruskan tren negatif yang terjadi sehari sebelumnya. Pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, rupiah tercatat melemah 98 poin atau 0,55%, dari level Rp17.818 menjadi Rp17.916 per dolar AS.
Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan pergerakan rupiah masih sangat dipengaruhi sentimen global, terutama penguatan dolar AS setelah keluarnya data aktivitas bisnis Amerika Serikat.
BACA JUGA: Emas Antam Kembali Tergerus, Harga Jatuh ke Level Terendah Sejak Juli
Data Flash Purchasing Managers' Index (PMI) AS untuk September menunjukkan aktivitas bisnis tumbuh cukup kuat.
PMI Composite yang menggabungkan aktivitas sektor manufaktur dan jasa meningkat menjadi 58,4 pada September dari 56,0 pada Agustus. Angka tersebut juga menjadi level tertinggi sejak Juli 2021.
Kuatnya aktivitas ekonomi AS menunjukkan momentum pertumbuhan yang masih solid. Pada saat yang sama, tekanan biaya dan inflasi yang masih persisten membuat ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS yang relatif ketat tetap bertahan.
Kondisi tersebut menjadi sentimen bagi dolar AS. Ketika pasar memperkirakan suku bunga AS bertahan pada level tinggi, aset berdenominasi dolar dapat menjadi lebih menarik bagi investor.
Arus dana yang mempertimbangkan daya tarik aset dolar tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara emerging market, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate di level 5,75%.
BI juga kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui optimalisasi berbagai instrumen moneter.
Menurut Amru, posisi cadangan devisa Indonesia yang masih kuat turut menjadi salah satu penopang ketahanan eksternal.
“Posisi cadangan devisa yang masih kuat di sekitar 146,5 miliar dolar AS juga menjadi salah satu faktor yang dapat membantu menjaga ketahanan eksternal,” ujar Amru, dikutip dari Antara, Kamis 24 September 2026.
Cadangan devisa tersebut memberikan ruang bagi Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal, termasuk gejolak pasar keuangan global dan kebutuhan stabilisasi nilai tukar.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan dolar AS dan perubahan ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Federal Reserve.
Di sisi lain, kebijakan BI dan kekuatan cadangan devisa menjadi faktor domestik yang dapat memengaruhi daya tahan rupiah ketika tekanan eksternal meningkat.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah yang berlangsung dalam waktu panjang dapat meningkatkan biaya barang dan bahan baku impor. Dampaknya terhadap harga konsumen bergantung pada seberapa besar biaya impor diteruskan oleh pelaku usaha.
Bagi investor, data ekonomi AS, ekspektasi suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, serta respons BI menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati dalam membaca arah rupiah.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 25 Sep 2026