Investasi
Selasa, 21 Juli 2026 11:49 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA – Investor asing mulai mengubah arah investasinya di pasar saham Indonesia setelah sepanjang 2026 lebih banyak melakukan aksi jual. Walaupun secara kumulatif masih membukukan net sell sekitar Rp92 triliun, aktivitas perdagangan pada Juni hingga pertengahan Juli 2026 menunjukkan mulai adanya aksi akumulasi di sejumlah saham, terutama yang berasal dari sektor komoditas, energi, pertambangan, dan keuangan.
Menariknya, selain kembali mengoleksi saham-saham kapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), investor asing juga mulai memburu sejumlah emiten yang relatif jarang menjadi sorotan pasar.
Di antaranya adalah PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA), PT Pacific Strategic Financial Tbk. (APIC), PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN), hingga PT Paragon Karya Perkasa Tbk. (PKPK).
Pergerakan tersebut menjadi sinyal yang menarik untuk dicermati karena menunjukkan pola rotasi sektor di tengah valuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dinilai semakin murah serta meningkatnya minat terhadap saham-saham dengan prospek pertumbuhan jangka panjang.
BACA JUGA: Saham TPIA Jadi Incaran Asing, Cek Prospek, dan Tantangannya
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), periode 15–19 Juni 2026 menjadi salah satu pekan dengan aksi beli asing terbesar sepanjang tahun.
Sorotan paling dominan tertuju pada PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) yang membukukan net buy sekitar Rp3,47 triliun hingga Rp3,55 triliun hanya dalam satu pekan. Nilai tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan emiten lain pada periode tersebut.
Selain EMAS, investor asing juga memborong:
Meski BBCA dan BMRI masih menjadi tujuan utama dana asing, lonjakan pembelian pada EMAS menjadi perhatian tersendiri karena emiten tersebut relatif lebih jarang dibahas dibanding induknya, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA).
Memasuki pekan 22–26 Juni 2026, fokus investor asing bergeser ke sektor energi baru. PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menjadi saham dengan akumulasi terbesar melalui net buy Rp358,9 miliar.
Sementara itu, BBCA masih mencatat pembelian bersih Rp432,7 miliar, sedangkan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) memperoleh net buy Rp95,5 miliar.
Masuknya BREN dan DSSA memperlihatkan bahwa investor asing mulai meningkatkan eksposur terhadap perusahaan energi yang memiliki model bisnis lebih terdiversifikasi.
Pada periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026, daftar saham yang diburu asing semakin beragam. Emiten dengan nilai pembelian bersih terbesar meliputi,
Komposisi tersebut menunjukkan investor asing mulai menyebar investasi ke sektor pertambangan emas, nikel, migas, energi, jasa keuangan, hingga media digital.
Baca juga : IHSG Turun 0,36 Persen di Pembukaan Hari Ini 17 Juli 2026
Data perdagangan harian 16 Juli 2026 kembali memperlihatkan derasnya aliran dana asing. Yang paling mencolok adalah PT Paragon Karya Perkasa Tbk. (PKPK) dengan net buy mencapai Rp982,5 miliar, menjadikannya emiten dengan pembelian asing terbesar pada hari tersebut.
Selain PKPK, investor asing juga memborong:
Nilai pembelian pada PKPK tergolong sangat besar untuk ukuran emiten yang belum banyak menjadi perhatian media maupun investor ritel.
Dari keseluruhan data Juni hingga Juli 2026 terlihat bahwa sebagian besar dana asing mengalir ke sektor komoditas, energi, pertambangan, dan mineral. Kondisi ini sejalan dengan valuasi IHSG yang semakin murah, di mana price to book value (PBV) disebut telah turun dari sekitar 2,58 kali menjadi 1,56 kali.
Di sisi lain, investor asing juga mulai melakukan rotasi ke sejumlah saham berkapitalisasi menengah yang sebelumnya kurang mendapat perhatian pasar. Fenomena tersebut menunjukkan strategi investasi yang lebih selektif dibanding hanya berfokus pada saham-saham blue chip.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 21 Jul 2026