Lingkungan
Selasa, 07 Juli 2026 12:48 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA – Sinar Mas merupakan salah satu konglomerasi bisnis terbesar di Indonesia yang telah berkembang selama puluhan tahun. Berawal dari usaha perdagangan yang dirintis pada dekade 1960-an oleh mendiang Eka Tjipta Widjaja, grup ini kini menaungi ratusan perusahaan yang bergerak di berbagai sektor strategis.
Seiring waktu, lini bisnis Sinar Mas terus meluas. Selain dikenal di sektor perkebunan kelapa sawit dan industri kertas, grup ini juga memiliki portofolio di bidang jasa keuangan, properti, energi, telekomunikasi, hingga layanan kesehatan.
Melalui sejumlah perusahaan terbuka maupun entitas swasta, Sinar Mas menjadi salah satu pelaku usaha yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia, sekaligus memperluas jejak bisnisnya ke berbagai pasar internasional.
BACA JUGA: Ironi Anggaran Desa: KDMP Berdiri, Jalan Rusak Masih Terbengkalai
Pilar pulp dan kertas menjadi salah satu fondasi utama bisnis Sinar Mas. Operasional sektor ini dijalankan melalui Asia Pulp & Paper (APP), salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), bisnis ini diwakili oleh PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) dan PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM). Keduanya memproduksi berbagai jenis kertas, mulai dari kertas industri, kertas cetak, hingga produk kemasan.
Selain perusahaan terbuka, APP juga mengoperasikan sejumlah pabrik besar seperti PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills, PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry, PT OKI Pulp & Paper Mills, PT Ekamas Fortuna, dan PT Purinusa Ekapersada.
Di pasar internasional, APP memiliki jaringan produksi dan distribusi di China melalui berbagai anak perusahaan yang memperkuat posisi grup sebagai pemain global industri pulp dan kertas.
Baca juga : Pohon Bisnis Anthoni Salim: Dari Industri Makanan hingga Agribisnis
Bisnis agribisnis dijalankan melalui Golden Agri-Resources (GAR) yang tercatat di Bursa Singapura.
Di Indonesia, operasional utamanya berada di bawah PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMART) yang mengelola perkebunan kelapa sawit, pabrik kelapa sawit, hingga produksi minyak goreng dan berbagai produk turunan crude palm oil (CPO).
Selain SMART, grup ini juga memiliki PT Dami Mas Sejahtera yang bergerak di bidang benih sawit serta Golden Agri International Pte Ltd yang menangani aktivitas perdagangan komoditas di tingkat global.
Dengan jutaan hektare area perkebunan dan jaringan distribusi internasional, sektor sawit menjadi salah satu kontributor terbesar terhadap pendapatan grup.
Di sektor jasa keuangan, Sinar Mas membangun ekosistem finansial terpadu melalui PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA). Holding ini membawahi berbagai perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, asuransi, pembiayaan, sekuritas, hingga pengelolaan investasi.
Beberapa entitas yang berada di bawah pilar ini antara lain:
Keberadaan berbagai anak usaha tersebut membuat Sinar Mas memiliki layanan keuangan yang mencakup hampir seluruh kebutuhan masyarakat maupun korporasi.
Baca juga : IHSG Hari Ini Dibuka Ngebut 1,98 Persen, Cek Saham Katalisnya
Pilar properti dijalankan melalui Sinar Mas Land, salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia. Perusahaan ini mengembangkan berbagai kota mandiri, kawasan industri, pusat perbelanjaan, apartemen, hotel, hingga gedung perkantoran.
Beberapa emiten yang terafiliasi antara lain:
Di luar negeri, bisnis properti Sinar Mas juga dijalankan melalui Sinar Mas Land Limited yang pernah tercatat di Bursa Singapura. BSD City menjadi proyek paling dikenal dari grup ini, sementara Kota Deltamas berkembang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia.
Sinar Mas juga memiliki bisnis energi melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Perusahaan ini memiliki portofolio yang mencakup pembangkit listrik, pertambangan batu bara, infrastruktur energi, hingga investasi digital.
Salah satu aset penting di sektor ini adalah Golden Energy Mines yang bergerak di bidang pertambangan batu bara. Selain itu, grup juga memiliki keterkaitan dengan Berau Coal Energy sebagai bagian dari ekspansi bisnis sumber daya alam.
Dalam beberapa tahun terakhir, DSSA juga mulai memperluas investasi ke sektor teknologi digital dan pusat data sebagai bagian dari diversifikasi usaha.
Baca juga : Indeks LQ45 Dibuka Naik 2,45 Persen, ANTM dan AMMN Perkasa
Di sektor telekomunikasi, Sinar Mas menjadi salah satu pemegang saham utama dalam pengembangan bisnis seluler melalui Smartfren.
Setelah proses konsolidasi industri, Smartfren bergabung dengan XL Axiata membentuk PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk, salah satu operator telekomunikasi terbesar di Indonesia.
Selain layanan seluler, grup juga memiliki sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang internet broadband dan infrastruktur digital, seperti PT Mora Quatro Multimedia, PT Sinar Mas Komunikasi Teknologi Tbk, serta PT Innovate Mas Indonesia.
Ekspansi ini menunjukkan bahwa Sinar Mas tidak hanya fokus pada industri konvensional, tetapi juga berupaya menangkap peluang ekonomi digital.
Pilar bisnis terakhir adalah layanan kesehatan yang dijalankan melalui jaringan Eka Hospital.
Rumah sakit ini telah berkembang di berbagai kota besar dan menawarkan layanan kesehatan terpadu, mulai dari pelayanan umum hingga pusat spesialis dengan dukungan teknologi medis modern.
Ekspansi sektor kesehatan menjadi bagian dari strategi grup untuk memperluas bisnis pada sektor yang memiliki pertumbuhan jangka panjang.
Lewat tujuh pilar bisnis tersebut, Sinar Mas menjelma menjadi salah satu konglomerasi paling terdiversifikasi di Indonesia. Portofolionya mencakup industri berbasis sumber daya alam seperti sawit dan pulp, sektor jasa seperti perbankan dan asuransi, hingga industri masa depan seperti telekomunikasi, infrastruktur digital, dan layanan kesehatan.
Sebagian besar bisnis tersebut dijalankan melalui perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sehingga dapat diakses investor publik, sementara sejumlah entitas lainnya tetap berstatus perusahaan tertutup.
Besarnya skala operasi membuat struktur korporasi Sinar Mas terus berkembang melalui pembentukan anak usaha, perusahaan afiliasi, maupun joint venture.
Karena itu, jumlah entitas di bawah grup ini diperkirakan mencapai ratusan perusahaan yang tersebar di Indonesia dan berbagai negara, menjadikannya salah satu kelompok usaha dengan jaringan bisnis terbesar di Asia Tenggara.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 06 Jul 2026
7 bulan yang lalu