Bisnis
Selasa, 04 Agustus 2026 14:52 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA – Selama lebih dari 20 tahun terakhir, industri media di Indonesia berkembang menjadi salah satu sektor dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Mayoritas media nasional kini dikuasai oleh sejumlah kecil konglomerat yang mengendalikan berbagai jenis platform, mulai dari stasiun televisi, portal berita online, media cetak, radio, hingga layanan streaming.
Kondisi tersebut membuat bisnis media tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyedia informasi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari jaringan bisnis yang terintegrasi dengan berbagai sektor lain, seperti perbankan, properti, telekomunikasi, pertambangan, ritel, hingga dunia politik.
Beragam studi, termasuk riset yang diterbitkan Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG), mengungkap bahwa sebagian besar media arus utama di Indonesia berada di bawah kendali sekitar belasan kelompok usaha besar.
Mereka menguasai berbagai kanal distribusi informasi, mulai dari televisi nasional, media daring, radio, surat kabar, majalah hingga layanan digital.
BACA JUGA: Kapan Waktu Terbaik untuk Beli Emas? Simak Strateginya di Sini!
Nama Hary Tanoesoedibjo menjadi salah satu figur paling dominan dalam industri media Indonesia melalui MNC Group.
Perusahaannya mengendalikan empat stasiun televisi nasional sekaligus, yakni RCTI, MNCTV, GTV, dan iNews. Selain televisi, MNC Group juga memiliki jaringan media digital yang luas melalui Okezone, Sindonews, iNews.id, IDX Channel, serta sejumlah platform hiburan digital.
Besarnya portofolio tersebut menjadikan MNC sebagai salah satu kelompok media terbesar di Asia Tenggara dari sisi jumlah aset penyiaran.
Aset media MNC Group:
Chairul Tanjung melalui CT Corp memperkuat posisinya di industri media setelah mengakuisisi Detikcom pada 2011.
Kini Transmedia tidak hanya memiliki Trans TV dan Trans7, tetapi juga mengendalikan sejumlah media digital terbesar di Indonesia seperti Detikcom, CNN Indonesia, CNBC Indonesia Indonesia, HaiBunda, InsertLive hingga platform berita ekonomi.
Kehadiran CNN Indonesia dan CNBC Indonesia merupakan hasil kerja sama lisensi dengan Warner Bros. Discovery dan NBCUniversal.
Selain media, CT Corp memiliki bisnis besar di sektor:
Kekayaan Chairul Tanjung diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah, menjadikannya salah satu orang terkaya di Indonesia.
Baca juga : Meneropong Kekuatan Industri Garmen Indonesia
Elang Mahkota Teknologi (Emtek) menjadi contoh kelompok media yang berhasil bertransformasi ke era digital. Selain mengendalikan SCTV, Indosiar dan MOJI, Emtek juga memiliki Vidio yang menjadi platform streaming terbesar di Indonesia.
Di sisi media digital, Emtek menguasai Liputan6.com beserta jaringan KapanLagi Youniverse (KLY) yang mencakup berbagai portal berita dan gaya hidup.
Aset utama Emtek:
Transformasi digital tersebut membuat Emtek tidak hanya bergantung pada pendapatan iklan televisi, tetapi juga berlangganan digital dan layanan streaming.
Keluarga Bakrie mengembangkan bisnis medianya melalui PT Visi Media Asia Tbk (VIVA). Grup ini menguasai dua stasiun televisi nasional, yakni ANTV dan tvOne, serta portal berita Viva.co.id.
Meski bisnis utama Grup Bakrie berada di sektor energi, pertambangan, telekomunikasi, dan infrastruktur, media tetap menjadi salah satu pilar strategis perusahaan.
Portofolio media VIVA Group:
Media Group milik Surya Paloh dikenal sebagai kelompok media yang berfokus pada pemberitaan. Aset utamanya meliputi Metro TV sebagai televisi berita nasional serta harian Media Indonesia yang telah lama menjadi salah satu surat kabar nasional.
Media Group juga mengembangkan platform digital Medcom.id.
Aset utama Media Group:
Lippo Group melalui BeritaSatu Media Holdings membangun jaringan media yang berfokus pada berita ekonomi, bisnis, investasi dan pasar modal.
Grup ini sebelumnya mengoperasikan BeritaSatu TV serta menerbitkan Investor Daily, Jakarta Globe dan sejumlah media ekonomi lainnya.Portofolio media tersebut menjadi pelengkap bisnis Lippo Group yang bergerak di sektor properti, kesehatan, pendidikan hingga layanan keuangan.
Kompas Gramedia merupakan salah satu kelompok media tertua sekaligus terbesar di Indonesia. Selain Harian Kompas, grup ini memiliki Kompas TV, Kompas.com, Gramedia, penerbit buku, percetakan, jaringan hotel, hingga berbagai unit bisnis pendidikan.
Berbeda dengan sejumlah konglomerasi media lainnya, Kompas Gramedia berkembang dari bisnis penerbitan sebelum berekspansi ke televisi dan digital.
Aset utama Kompas Gramedia:
Jawa Pos Group dikenal sebagai jaringan surat kabar terbesar di Indonesia. Selain Harian Jawa Pos, grup ini memiliki ratusan media lokal yang tersebar di berbagai provinsi, televisi lokal, media digital hingga percetakan.
Dominasi media daerah menjadikan Jawa Pos memiliki jangkauan pembaca yang sangat luas di luar Jakarta.
Baca juga : Beda Gaya Gen X dan Baby Boomers Nikmati Masa Pensiun
Mahaka Media pernah menjadi salah satu pemain penting di industri media nasional. Portofolionya meliputi Jak TV, Republika, Gen FM, Jak FM, serta berbagai bisnis media luar ruang dan penyelenggaraan acara.
Di bawah Erick Thohir, Mahaka juga berkembang ke industri kreatif, event organizer, dan agensi komunikasi.
Tempo dikenal sebagai salah satu media investigasi paling berpengaruh di Indonesia. Grup ini menerbitkan Majalah Tempo, Koran Tempo (sebelum berhenti terbit), Tempo.co serta berbagai produk jurnalistik digital. Tempo menjadi salah satu sedikit kelompok media yang berfokus hampir sepenuhnya pada bisnis jurnalisme.
MRA Group mengembangkan bisnis media yang menyasar segmen gaya hidup. Portofolionya mencakup berbagai majalah internasional berlisensi seperti Cosmopolitan Indonesia, Harper's Bazaar Indonesia, Auto Bild Indonesia serta sejumlah media gaya hidup lainnya.
Selain media, MRA memiliki bisnis otomotif premium, hotel, restoran hingga hiburan.
Femina Group merupakan salah satu pelopor media majalah di Indonesia. Grup ini dikenal melalui Majalah Femina, Gadis, AyahBunda hingga berbagai media keluarga dan perempuan.
Meski industri majalah mengalami transformasi besar akibat digitalisasi, Femina tetap mempertahankan sejumlah platform digital sebagai bagian dari strategi bisnisnya.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 03 Aug 2026