Internet
Selasa, 31 Maret 2026 14:19 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - Selat Hormuz tidak hanya dikenal sebagai jalur utama distribusi minyak dunia, tetapi juga berfungsi sebagai jalur krusial bagi kabel internet bawah laut skala global.
Infrastruktur ini memegang peranan penting dalam mengalirkan data antara Asia, Eropa, dan berbagai wilayah lain, sehingga menjadikannya salah satu titik paling strategis dalam jaringan komunikasi internasional.
Apabila kabel-kabel tersebut mengalami kerusakan, misalnya akibat konflik, dampaknya tidak sekadar mengganggu akses internet. Risiko yang muncul bisa berkembang menjadi krisis digital global, karena sektor keuangan, layanan teknologi, hingga aktivitas bisnis lintas negara sangat bergantung pada koneksi data yang cepat dan stabil.
BACA JUGA: Kenali Apa Itu Sunk Cost Fallacy yang Bisa Bikin Rugi Investasi
Selat Hormuz memiliki peran strategis tidak hanya dalam sektor energi, tetapi juga sebagai jalur utama konektivitas digital global. Kabel bawah laut yang melintasi kawasan ini menjadi penghubung antara Asia, Eropa, dan kawasan lain.
Dengan hampir seluruh trafik internet global bergantung pada kabel bawah laut, gangguan di titik sempit seperti Hormuz dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap konektivitas internasional.
Kabel bawah laut pada dasarnya dirancang untuk kebutuhan komunikasi, bukan untuk menghadapi konflik militer. Karena itu, kabel ini sangat rentan terhadap kerusakan baik akibat sabotase, jangkar kapal, maupun aktivitas militer.
Selain itu, proses perbaikan kabel membutuhkan kapal khusus dan kondisi laut yang aman. Dalam situasi konflik, perbaikan bisa tertunda atau bahkan tidak dilakukan sama sekali.
Jika kabel terputus, koneksi internet global akan mengalami penurunan kualitas secara signifikan. Negara-negara yang bergantung pada jalur ini akan merasakan perlambatan hingga gangguan layanan.
Pengalihan jalur ke rute alternatif memang memungkinkan, tetapi kapasitasnya jauh lebih kecil sehingga tidak mampu menampung lonjakan trafik.
Sistem keuangan global sangat bergantung pada konektivitas internet berkecepatan tinggi dengan latensi rendah. Gangguan pada kabel bawah laut dapat memperlambat bahkan menghentikan transaksi lintas negara.
Dampaknya bisa meluas ke sistem pembayaran digital, perdagangan internasional, hingga pasar keuangan global.
Banyak layanan digital modern seperti cloud computing dan kecerdasan buatan bergantung pada koneksi global yang stabil. Gangguan pada kabel bawah laut akan menyebabkan penurunan performa layanan ini.
Hal ini dapat berdampak pada perusahaan, startup, hingga layanan publik yang bergantung pada infrastruktur digital.
Perusahaan teknologi besar yang mengandalkan jaringan global akan merasakan dampak langsung dari gangguan ini. Infrastruktur mereka yang tersebar di berbagai negara sangat bergantung pada konektivitas kabel bawah laut. Gangguan ini dapat memengaruhi layanan yang digunakan miliaran orang di seluruh dunia.
Perbaikan kabel bawah laut memerlukan proses teknis yang kompleks dan mahal. Selain itu, faktor keamanan menjadi kendala utama jika kerusakan terjadi di wilayah konflik.
Dalam kondisi perang, perbaikan bisa tertunda dalam jangka waktu lama, sehingga dampak gangguan bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Meskipun tidak berada di kawasan Hormuz, Indonesia dan negara Asia Tenggara tetap terdampak karena terhubung dalam jaringan global yang sama. Gangguan di satu titik bisa memengaruhi seluruh sistem.
Kenaikan biaya bandwidth juga dapat berdampak pada harga layanan digital dan operasional bisnis berbasis internet di kawasan ini.
Dampak dari putusnya kabel tidak hanya terbatas pada internet, tetapi juga merambat ke berbagai sektor lain. Komunikasi strategis, layanan hiburan, hingga perdagangan digital dapat ikut terdampak. Jika berlangsung lama, kondisi ini berpotensi memicu efek berantai yang mengganggu stabilitas ekonomi digital global.
Selat Hormuz memiliki peran vital dalam sistem komunikasi global melalui jaringan kabel bawah laut. Jika kabel-kabel ini terputus akibat konflik, dampaknya tidak hanya berupa gangguan internet, tetapi juga bisa meluas ke sistem keuangan, teknologi, dan ekonomi global.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 31 Mar 2026