Bencana alam
Rabu, 09 September 2026 09:14 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA –Letusan Gunung Krakatau pada 1883 tercatat sebagai salah satu erupsi gunung api paling dahsyat dalam sejarah modern.
Erupsi tersebut menyebabkan sebagian besar tubuh Gunung Krakatau hancur dan membentuk kaldera di kawasan Selat Sunda. Letusan juga memicu tsunami besar yang menerjang wilayah pesisir, sementara dampaknya terhadap atmosfer bahkan terlihat melalui perubahan kondisi langit di berbagai wilayah dunia.
Dengan mencapai Volcanic Explosivity Index (VEI) 6, letusan Krakatau tergolong sebagai erupsi dengan skala sangat besar. Ledakan tersebut melontarkan material vulkanik dalam jumlah masif ke atmosfer. Di sisi lain, runtuhnya sebagian tubuh gunung serta aktivitas vulkanik di bawah laut turut memicu tsunami yang kemudian menghantam pesisir Jawa dan Sumatra.
Bencana tersebut menewaskan lebih dari 36.000 orang, dengan sebagian besar korban meninggal akibat tsunami. Lantas, seberapa dahsyat letusan Krakatau 1883 dan apa saja dampaknya?
Berikut fakta ilmiah mengenai letusan Krakatau 1883 yang masih menjadi bahan penelitian hingga kini,
BACA JUGA: Deretan Fakta dan Mitos Gunung Anak Krakatau yang Wajib Kamu Tahu
Salah satu indikator untuk mengukur besarnya letusan gunung api adalah Volcanic Explosivity Index (VEI). Letusan Krakatau pada 1883 dikategorikan sebagai VEI-6. Skala tersebut menempatkan Krakatau dalam kelompok letusan eksplosif yang sangat besar.
VEI tidak hanya mempertimbangkan kekuatan ledakan, tetapi juga volume material vulkanik yang dikeluarkan dan karakteristik erupsi. Besarnya skala Krakatau 1883 membuat peristiwa tersebut menjadi salah satu contoh penting dalam ilmu vulkanologi modern.
Baca juga : Deretan Bencana Besar di RI dan Dampaknya pada Ekonomi
Sejumlah perkiraan historis menyebut energi yang dilepaskan dalam rangkaian letusan Krakatau 1883 berada pada skala ratusan megaton TNT, dengan angka sekitar 200 megaton yang sering digunakan dalam berbagai sumber populer. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya energi yang dilepaskan selama rangkaian erupsi.
Letusan Krakatau menghasilkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar. Berbagai rekonstruksi memperkirakan material yang dikeluarkan berada pada kisaran belasan hingga puluhan kilometer kubik, tergantung metode perhitungan dan jenis material yang dihitung.
Abu, batu apung, dan material vulkanik lainnya terlontar ke atmosfer dan kemudian tersebar mengikuti kondisi angin. Sebagian material tersebut bahkan mencapai lapisan atmosfer yang tinggi dan berkontribusi terhadap perubahan kondisi atmosfer setelah letusan.
Ledakan Krakatau menghasilkan kolom erupsi yang menjulang sangat tinggi ke atmosfer. Material vulkanik diperkirakan mencapai ketinggian lebih dari 30 kilometer, sehingga sebagian material dapat masuk ke lapisan stratosfer.
Masuknya material ke lapisan atmosfer yang tinggi menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa dampak letusan tidak berhenti di sekitar Selat Sunda. Partikel vulkanik dan aerosol yang tersebar di atmosfer kemudian memengaruhi kondisi atmosfer dalam skala yang jauh lebih luas.
Salah satu catatan paling terkenal mengenai letusan Krakatau adalah suara ledakannya. Ledakan pada 27 Agustus 1883 dilaporkan terdengar hingga ribuan kilometer dari pusat letusan. Kesaksian mengenai suara tersebut bahkan datang dari wilayah yang sangat jauh dari Selat Sunda, termasuk Australia.
Jaraknya diperkirakan mencapai sekitar 3.000 hingga 3.500 kilometer, menjadikan suara letusan Krakatau salah satu fenomena suara paling jauh yang pernah terdokumentasi dalam sejarah. Gelombang tekanan akibat ledakan juga tercatat mengelilingi Bumi dan terdeteksi oleh instrumen pengukuran tekanan atmosfer di berbagai lokasi.
Baca juga : Mengenali Dampak Abu Vulkanik Bagi Kesehatanmu
Letusan 1883 tidak hanya menghasilkan ledakan besar. Peristiwa tersebut juga menyebabkan perubahan permanen terhadap bentuk kawasan Krakatau. Sebagian besar tubuh gunung mengalami kehancuran dan kawasan tersebut membentuk kaldera besar yang sebagian berada di bawah permukaan laut.
Perubahan bentang alam tersebut menjadi salah satu bukti paling jelas mengenai besarnya energi geologi yang dilepaskan selama erupsi. Kawasan yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau tumbuh beberapa dekade setelahnya dari sistem vulkanik yang sama.
Salah satu dampak paling mematikan dari letusan Krakatau adalah tsunami. Aktivitas vulkanik dan runtuhnya material ke laut menghasilkan gelombang tsunami yang menghantam pesisir Jawa dan Sumatra.
Ketinggian gelombang berbeda-beda berdasarkan lokasi dan metode rekonstruksi. Di sejumlah lokasi, gelombang tsunami dilaporkan mencapai puluhan meter, dengan beberapa rekonstruksi menunjukkan ketinggian hingga sekitar 30–40 meter.
Tsunami kemudian menyapu berbagai kawasan pesisir di sekitar Selat Sunda. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bahaya gunung api yang berada di dekat laut bukan hanya berasal dari lava dan abu, tetapi juga dari perubahan mendadak pada volume atau struktur material di laut.
Letusan dan tsunami Krakatau 1883 menyebabkan korban jiwa dalam jumlah sangat besar. Lebih dari 36.000 orang tercatat meninggal dunia dalam bencana tersebut. Sebagian besar korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam kawasan pesisir Jawa dan Sumatra.
Ratusan permukiman pesisir terdampak, sementara gelombang tsunami menyebar ke berbagai wilayah di sekitar Selat Sunda. Besarnya korban menjadikan Krakatau 1883 sebagai salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah modern.
Baca juga : Menguji Penguatan Saham Kesehatan di Tengah Maraknya Bencana
Dampak letusan Krakatau pada 1883 tidak berhenti ketika abu vulkanik mulai mengendap di permukaan. Salah satu pengaruh paling luas dari erupsi tersebut terjadi di atmosfer. Letusan dengan kekuatan besar mampu menyemburkan material vulkanik, abu, serta berbagai jenis gas ke lapisan atmosfer dalam jumlah sangat besar. Salah satu komponen yang paling penting adalah sulfur dioksida (SO₂).
Ketika mencapai atmosfer, sulfur dioksida dapat mengalami reaksi kimia dan membentuk aerosol sulfat. Partikel-partikel berukuran sangat kecil ini memiliki kemampuan untuk memantulkan dan menghamburkan sebagian radiasi Matahari sehingga jumlah energi Matahari yang mencapai permukaan Bumi dapat berkurang.
Mekanisme tersebut dikenal sebagai salah satu penyebab terjadinya pendinginan vulkanik. Pada letusan gunung api yang sangat besar, aerosol yang berada di lapisan atmosfer atas dapat bertahan lebih lama dibandingkan abu yang umumnya lebih cepat jatuh ke permukaan. Karena itu, dampak terhadap suhu tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi letusan, tetapi berpotensi memengaruhi wilayah yang jauh dari sumber erupsi.
Setelah letusan Krakatau 1883, berbagai catatan sejarah dan penelitian ilmiah menunjukkan adanya perubahan kondisi atmosfer dan suhu global untuk periode tertentu. Penurunan suhu tersebut tidak terjadi secara permanen, melainkan merupakan respons sementara sistem iklim terhadap masuknya aerosol vulkanik ke atmosfer.
Selain memengaruhi suhu, material vulkanik di atmosfer juga menghasilkan fenomena optik yang terlihat dari berbagai belahan dunia. Setelah letusan, sejumlah wilayah dilaporkan mengalami matahari terbenam dengan warna merah dan jingga yang lebih mencolok.
Salah satu dampak paling menarik dari Krakatau adalah fenomena optik yang muncul setelah letusan. Partikel dan aerosol vulkanik yang berada di atmosfer menyebabkan cahaya matahari tersebar dengan cara berbeda.
Di berbagai wilayah dunia, masyarakat melaporkan matahari terbenam berwarna merah dan jingga yang sangat intens. Fenomena langit tersebut bahkan terdokumentasi dalam karya seni dan catatan masyarakat di Eropa serta Amerika.
Beberapa laporan juga menyebut fenomena Bulan tampak berwarna kebiruan. Secara ilmiah, fenomena tersebut dapat terjadi ketika partikel di atmosfer memengaruhi cara cahaya dengan panjang gelombang tertentu diteruskan atau tersebar
Letusan Krakatau 1883 bukan hanya sebuah ledakan besar di Selat Sunda. Erupsi tersebut mengubah bentuk kawasan Krakatau, memicu tsunami mematikan, menewaskan lebih dari 36.000 orang, mengirim material vulkanik ke atmosfer, dan menghasilkan fenomena atmosfer yang diamati hingga berbagai belahan dunia.
Dengan skala VEI-6, Krakatau 1883 menjadi salah satu contoh penting dalam sejarah vulkanologi mengenai bagaimana aktivitas sebuah gunung api dapat menghasilkan dampak berlapis.
Lebih dari satu abad kemudian, warisan geologinya masih dapat dilihat melalui keberadaan Anak Krakatau. Krakatau pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kekuatan gunung api tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar letusannya, tetapi juga oleh lokasi gunung, kondisi lingkungan sekitar, kepadatan penduduk, serta kemampuan manusia memahami dan merespons ancaman bencan
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 08 Sep 2026