Koperasi
Selasa, 26 Mei 2026 16:52 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - IHSG tercatat melemah ke level sekitar 6.000, sementara nilai tukar rupiah ikut tertekan hingga mendekati Rp17.700 per dolar AS. Di saat yang sama, pada awal masa pemerintahan Prabowo Subianto, investor asing juga dilaporkan melakukan penarikan dana dari pasar keuangan Indonesia secara cukup masif.
Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan bagi masyarakat Indonesia, apakah situasi tersebut memiliki pola yang mirip dengan kondisi menjelang krisis moneter 1998, yang terjadi pada akhir masa pemerintahan Soeharto?
Tanda-tanda runtuhnya Orde Baru muncul sejak pertengahan 1997. Krisis moneter melanda Asia Tenggara, dan Indonesia terkena dampak paling parah.
BACA JUGA: Menolak Lupa 5 'Penyakit' KUD Era Soeharto, KDMP Perlu Belajar!
Rupiah jatuh bebas, inflasi melonjak, dan ekonomi yang selama ini tumbuh stabil tiba-tiba lumpuh. Namun lebih dari sekadar krisis ekonomi, amarah rakyat mengakar dari ketidakadilan struktural: korupsi merajalela, nepotisme menjadi norma, dan suara masyarakat ditekan.
Perekonomian mengalami pelarian modal asing yang menyebabkan rupiah jatuh dari Rp2.600 per dolar pada Agustus 1997 menjadi lebih dari Rp14.800 per dolar pada Januari 1998.
Perusahaan-perusahaan Indonesia dengan pinjaman dalam mata uang dolar AS berjuang untuk melunasi utang ini dengan pendapatan rupiah mereka, dan banyak yang bangkrut.
Inflasi mencapai angka 77% pada tahun 1998, menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak dan daya beli masyarakat anjlok. Banyak pabrik gulung tikar dan jutaan orang kehilangan pekerjaan.
Penutupan 16 bank pada November 1997 memicu kepanikan dan fenomena bank runs, memperburuk kondisi perbankan nasional. Kondisi tersebut jadi gambaran jelang krisis ekonomi 1998.
Baca juga : IHSG Anjlok 26 Persen YTD, Bursa Paling Buruk di Dunia
Sekarang mari kita lihat kondisi 2026, angka demi angka,
Baca juga : Masih Merah, IHSG Hari Ini Dibuka Turun 0,5 Persen
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai perbandingan situasi sekarang dengan krisis 1998 tidak tepat karena latar belakang ekonomi dan kondisi sosial politik sangat berbeda.
"Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda, 1998 itu kebijakannya salah dan 'instability social-politic' terjadi setelah setahun kita resesi," jelas Purbaya setelah acara penyerahan sejumlah pesawat di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma Jakarta, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.
Secara data makro, pernyataan Menkeu itu tidak salah. Tapi ada satu pelajaran dari 1998 yang tidak boleh dilupakan.
Di balik kemajuan era Soeharto, struktur ekonomi Indonesia sangat rentan, ketergantungan terhadap utang luar negeri tinggi, sektor perbankan lemah, praktik KKN merajalela, dan ketimpangan sosial melebar dan ketika badai krisis finansial Asia datang pada pertengahan 1997, fondasi ekonomi Indonesia tidak mampu bertahan.
Kerentanan struktural tidak selalu terlihat dari luar. Ia menumpuk diam-diam, lalu meledak saat ada badai eksternal yang cukup besar.
Di balik pertumbuhan PDB yang baik, tekanan nilai tukar mencerminkan persepsi risiko dari investor terhadap prospek ekonomi, terutama kondisi fiskal Indonesia.
Rupiah yang melemah dapat meningkatkan beban utang luar negeri berdenominasi dolar, mendorong inflasi impor, dan mempersempit ruang gerak kebijakan moneter Bank Indonesia.
Kondisi 2026 relatif berbeda dengan 1998. Skala krisisnya tidak sebanding. Inflasi 2,41% vs 77%. Pertumbuhan 5,61% vs minus 13%. Rupiah Rp17.346 vs Rp14.800 dari posisi Rp2.600. Sistem perbankan yang jauh lebih kokoh, tidak ada IMF masuk, tidak ada kerusuhan di jalan.
Tapi yang ada kesamaannya adalah pola awal kerentanan, tekanan fiskal yang belum terkendali, kepercayaan investor yang mulai goyah, dan ketidakpastian arah kebijakan.
Soeharto tidak jatuh dalam semalam, krisis 1998 adalah akumulasi bertahun-tahun yang meledak ketika badai eksternal datang.
Indonesia 2026 masih punya fundamental yang cukup untuk bertahan. Yang menjadi pertanyaan sesungguhnya bukan apakah ini sudah seperti 1998, melainkan apakah kita sedang membangun fondasi yang lebih kuat, atau hanya menunda masalah yang sama?
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 22 May 2026