Beras
Rabu, 15 Juli 2026 14:51 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - Chairul Tanjung dikenal sebagai salah satu figur penting di balik berkembangnya konglomerasi nasional. Lewat CT Corp, pengusaha yang merintis bisnis sejak masih duduk di bangku kuliah itu sukses membangun grup usaha yang merambah berbagai sektor, mulai dari jasa keuangan, media, ritel, hiburan, hingga sumber daya alam.
Sejalan dengan ekspansi bisnisnya, sejumlah perusahaan di bawah naungan CT Corp telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), sementara sebagian besar entitas lainnya masih beroperasi sebagai perusahaan tertutup.
Lantas, bagaimana peta gurita bisnis Chairul Tanjung? bagaimana kinerja korporasinya? Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber Selasa, 14 Juli 2026, berikut ulasannya.
BACA JUGA: Transformasi Perkuat Daya Tahan Pupuk Indonesia Hadapi Gejolak Ekonomi Global
CT Corp, yang sebelumnya dikenal sebagai Para Group, berdiri pada 1987. Grup ini berkembang melalui tiga subholding utama yang menjadi penopang bisnisnya, diantaranya sebagai berikut,
Mega Corp menjadi tulang punggung laba CT Corp melalui bisnis jasa keuangan. Unit usaha ini menaungi berbagai perusahaan di sektor perbankan, pembiayaan, asuransi, sekuritas, hingga manajemen investasi.
Beberapa perusahaan di bawah Mega Corp antara lain,
Dari seluruh lini usaha tersebut, Bank Mega menjadi penyumbang laba terbesar sekaligus mesin kas (cash cow) bagi grup.
Baca juga : Pohon Bisnis Haji Isam: Batu Bara, Sawit, hingga Industri Kreatif
Subholding kedua adalah Trans Corp yang bergerak di bidang media, ritel, hiburan, gaya hidup, perhotelan, hingga makanan dan minuman.
Di sektor media, Trans Corp membawahi,
Sementara bisnis ritelnya meliputi,
Di bidang hospitality dan gaya hidup, CT Corp juga mengelola,
Selain itu, grup ini juga memegang lisensi sejumlah merek fesyen internasional seperti Mango, Versace, Jimmy Choo, Aigner, hingga Furla. Meski memiliki skala bisnis yang besar, mayoritas perusahaan di bawah Trans Corp hingga kini belum melantai di Bursa Efek Indonesia.
Pilar bisnis ketiga adalah CT Global Resources yang bergerak di sektor sumber daya alam, fokus utamanya meliputi,
Kontribusi segmen ini memang tidak sebesar bisnis keuangan maupun media, namun tetap menjadi bagian dari strategi diversifikasi CT Corp.
Berbeda dengan konglomerasi besar lain yang memiliki banyak perusahaan publik, jumlah emiten inti CT Corp yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia masih relatif terbatas, diantaranya sebagai berikut,
Bank Mega merupakan aset publik terbesar milik Chairul Tanjung sekaligus kontributor laba utama grup. Bank ini bergerak di bidang jasa keuangan dengan produk layanan meliputi,
Keunggulan Bank Mega terletak pada integrasi dengan ekosistem CT Corp, mulai dari Transmart, Trans Studio, Coffee Bean, hingga Allo Bank yang mendorong peningkatan loyalitas nasabah.
Secara fundamental, Bank Mega dikenal memiliki profitabilitas yang stabil dengan rasio permodalan (CAR) yang kuat, tingkat kredit bermasalah (NPL) yang relatif rendah, serta rutin membagikan dividen kepada pemegang saham. Meski demikian, pertumbuhan kreditnya cenderung lebih konservatif dibandingkan bank-bank besar seperti BCA maupun BRI.
Allo Bank merupakan hasil transformasi Bank Harda setelah diakuisisi oleh CT Corp dan dikembangkan menjadi bank digital. Ekosistem Allo Bank terhubung dengan berbagai mitra strategis, seperti,
Fokus utama Allo Bank adalah memperbesar basis nasabah digital, meningkatkan dana murah (CASA), dan memperluas transaksi digital melalui ekosistem yang terintegrasi.
Sebagai bank digital yang masih dalam tahap ekspansi, profitabilitas BBHI belum setinggi bank konvensional karena masih dibebani investasi teknologi dan pengembangan bisnis.
Baca juga : Iman Zanatul Haeri, Guru Sejarah yang Masuk 22 Tokoh Reset Indonesia
Selain sektor keuangan, Chairul Tanjung juga memiliki eksposur investasi di PT Cardig Aero Services Tbk (CMPP). Perusahaan ini bergerak di bidang penerbangan meliputi sektor,
Kinerja CMPP sangat dipengaruhi oleh kondisi industri penerbangan nasional maupun global.
Meski memiliki merek yang sangat dikenal masyarakat, hingga kini Trans TV, Trans7, Transmart maupun detikcom masih berstatus perusahaan tertutup.
Sejumlah analis menilai terdapat beberapa alasan di balik keputusan tersebut. Pertama, status sebagai perusahaan privat memberikan fleksibilitas lebih besar bagi manajemen dalam melakukan restrukturisasi dan ekspansi bisnis tanpa tekanan dari pasar modal.
Kedua, laba yang dihasilkan Bank Mega dinilai masih mampu menjadi sumber pendanaan internal bagi pengembangan bisnis CT Corp sehingga kebutuhan memperoleh dana melalui pasar modal belum menjadi prioritas.
Selain itu, CT Corp juga pernah menyampaikan rencana jangka panjang untuk membawa induk usahanya melantai di Bursa Efek Indonesia apabila skala bisnis dan kondisi pasar telah mendukung.
Dari seluruh lini usaha, sektor jasa keuangan masih menjadi penyumbang terbesar terhadap laba CT Corp. Mega Corpora sebagai induk bisnis keuangan terus mencatatkan pertumbuhan bisnis yang ditopang oleh Bank Mega dan ekspansi Allo Bank sebagai bank digital.
Sementara itu, Trans Corp masih menjadi kekuatan utama di sektor media, hiburan, dan gaya hidup melalui jaringan televisi nasional, portal berita digital, pusat perbelanjaan, hingga taman hiburan.
Di sisi lain, bisnis sumber daya alam melalui CT Global Resources menjadi penopang diversifikasi portofolio grup meski kontribusinya relatif lebih kecil.
Selain memperkuat bisnis yang telah ada, CT Corp juga dikabarkan masih menyiapkan sejumlah langkah strategis, termasuk rencana membawa Bank Mega Syariah ke Bursa Efek Indonesia apabila kondisi pasar mendukung.
Dalam jangka panjang, Chairul Tanjung juga pernah menyampaikan ambisinya untuk membawa CT Corp sebagai induk usaha menjadi perusahaan terbuka, meski hingga kini belum ada jadwal resmi mengenai pelaksanaan IPO tersebut.
Dengan portofolio bisnis yang tersebar di sektor keuangan, media, ritel, hiburan, hingga sumber daya alam, CT Corp tetap menjadi salah satu konglomerasi paling terdiversifikasi di Indonesia.
Kekuatan ekosistem antarbisnis yang dimiliki grup menjadi salah satu keunggulan utama dalam menjaga pertumbuhan usaha di tengah dinamika ekonomi nasional maupun global.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 15 Jul 2026