Kenali Pertamax Green, BBM Ramah Lingkungan tapi Tidak Ramah Kantong

Rabu, 24 Juni 2026 13:18 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

Kenali Pertamax Green, BBM Ramah Lingkungan tapi Tidak Ramah Kantong
Kenali Pertamax Green, BBM Ramah Lingkungan tapi Tidak Ramah Kantong (Pertamina)

JAKARTA – Transisi menuju energi yang lebih bersih kerap dipandang sebagai langkah positif untuk mengurangi emisi karbon, memperbaiki kualitas udara, dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Namun, ketika implementasinya menyentuh sektor konsumsi sehari-hari seperti bahan bakar kendaraan, tantangannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Energi ramah lingkungan sering kali datang dengan harga yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut tercermin pada Pertamax Green, bahan bakar hasil campuran bensin dan bioetanol yang dipasarkan Pertamina. Saat ini, harga Pertamax Green berada di kisaran Rp17.000 per liter, lebih tinggi dibandingkan Pertamax reguler yang dijual sekitar Rp16.250 per liter.

Artinya, konsumen yang ingin memilih bahan bakar yang diklaim lebih ramah lingkungan harus membayar premi sekitar Rp750 per liter. Sekilas selisih itu terlihat kecil. Namun dalam keputusan konsumsi massal, selisih harga sekecil apa pun bisa menjadi penentu utama.

Pertanyaan besarnya, bagaimana Indonesia bisa mendorong transisi energi jika produk “hijau” justru lebih mahal dari produk yang ingin digantikannya?

BACA JUGA: Mau Liburan? Jangan Lupa Cabut 7 Perangkat Ini untuk Hindari Kebakaran

Apa Itu Pertamax Green?

Pertamax Green merupakan BBM berbasis bensin yang dicampur bioetanol. Varian yang saat ini dipasarkan adalah E5, artinya kandungannya terdiri dari sekitar:

  • 95% bensin,
  • 5% bioetanol.

Bioetanol sendiri adalah alkohol berbasis biomassa yang umumnya dihasilkan dari:

  • tebu,
  • molase,
  • jagung,
  • singkong,
  • atau bahan organik lain.

Karena berasal dari biomassa, bioetanol dianggap lebih rendah emisi karbon dibanding bahan bakar fosil murni.

Menurut International Energy Agency (IEA), biofuel seperti etanol dapat membantu menurunkan emisi sektor transportasi, terutama pada negara yang belum sepenuhnya siap beralih ke kendaraan listrik.

Inilah yang membuat bioetanol sering disebut sebagai transition fuel—bahan bakar jembatan menuju sistem energi yang lebih bersih.

Masalah Klasik: Produk Hijau Selalu Lebih Mahal

Produk hijau hampir selalu lebih mahal pada fase awal adopsi. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Mobil listrik awalnya jauh lebih mahal dari mobil bensin. Panel surya dulu dianggap terlalu mahal untuk rumah tangga. Biofuel juga menghadapi tantangan serupa.

Ekonom energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menjelaskan harga merupakan faktor dominan dalam keputusan konsumsi energi rumah tangga. “Selama selisih harga produk energi hijau masih lebih mahal dibanding produk konvensional, adopsinya akan lambat kecuali ada insentif kuat dari pemerintah,” ujar Fahmy dalam sebuah forum kebijakan energi.

Artinya, sebaik apa pun narasi keberlanjutan yang dibangun, mayoritas konsumen tetap akan berhitung secara ekonomi.

TrenAsia mencoba membuat simulasi sederhana. Jika seorang pengendara mengonsumsi 150 liter BBM per bulan:

Menggunakan Pertamax:

  • 150 × Rp16.250
    = Rp2.437.500

Menggunakan Pertamax Green:

  • 150 × Rp17.000
    = Rp2.550.000

Selisih:
Rp112.500 per bulan

Dalam setahun:
Rp1,35 juta

Bagi sebagian konsumen kelas menengah, angka itu cukup besar untuk membuat pilihan menjadi sangat rasional.

Paradoks Besar Transisi Energi Indonesia

Di sinilah ironi muncul. Pemerintah mendorong dekarbonisasi. Pertamina memperkenalkan BBM yang lebih hijau. Namun struktur harga justru membuat konsumen diberi sinyal yang berlawanan. Kalau ingin lebih ramah lingkungan, konsumen malah harus bayar lebih mahal.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, berulang kali menekankan transisi energi tidak akan berjalan optimal bila sinyal harga tidak mendukung.

“Transisi energi membutuhkan insentif ekonomi yang tepat. Kalau harga energi bersih lebih mahal tanpa dukungan kebijakan, penetrasinya akan lambat,” ujar Fabby dalam sebua diskusi transisi energi belum lama ini.

Indonesia Sudah Keluar Biaya Besar untuk Bioetanol

Yang membuat isu ini lebih kompleks, Indonesia sebenarnya sudah mengeluarkan biaya besar untuk membangun ekosistem biofuel.

Selama bertahun-tahun pemerintah mendorong:

  • pengembangan bioetanol,
  • insentif industri berbasis tebu,
  • riset pencampuran bahan bakar,
  • penguatan rantai pasok biomassa.

Namun bioetanol Indonesia masih menghadapi persoalan struktural. Pertama, pasokan bahan baku belum stabil. Produksi gula nasional sendiri masih belum mencukupi kebutuhan domestik.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan konsumsi gula nasional berada di kisaran 6–7 juta ton per tahun, sementara produksi domestik masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan.

Artinya, jika bioetanol sangat bergantung pada tebu, Indonesia menghadapi kompetisi penggunaan lahan dan bahan baku. Kedua, skala produksi bioetanol masih terbatas. Skala kecil berarti biaya produksi per liter masih tinggi. Akibatnya, harga jual akhir sulit kompetitif.

Kenapa Biodiesel Lebih Berhasil daripada Bioetanol?

Indonesia jauh lebih sukses di biodiesel dibanding bioetanol. Program biodiesel berjalan lebih agresif:

  • B20
  • B35
  • menuju B50

Hal ini tak lepas dari subsidi dan dukungan fiskal. Program biodiesel sawit mendapat dukungan besar dari BPDPKS melalui pungutan ekspor sawit yang digunakan untuk menutup selisih harga biodiesel dan solar fosil.

Dengan kata lain, konsumen tidak menanggung seluruh biaya transisi. Pada bioetanol, dukungan semacam itu belum sekuat biodiesel. Akibatnya, harga produk hijau langsung diteruskan ke konsumen.

Subsidi Perlu Terus Didorong

Jika pemerintah serius mendorong Pertamax Green sebagai instrumen transisi energi, ada pertanyaan yang sulit dihindari: Haruskah produk hijau disubsidi? Banyak negara memilih ya.

Amerika Serikat, Brasil, dan Uni Eropa memberi berbagai insentif untuk:

  • biofuel,
  • EV,
  • energi surya,
  • teknologi rendah karbon.

Tujuannya sederhana, menurunkan harga awal agar konsumen mau berpindah. Tanpa itu, transisi berjalan terlalu lambat.

Menurut World Bank, salah satu hambatan terbesar transisi energi di negara berkembang adalah tingginya green premium, selisih harga antara produk hijau dan produk konvensional. Pertamax Green hari ini menunjukkan green premium itu secara sangat jelas.

Bukan Sekadar Soal BBM

Kasus Pertamax Green menceritakan sesuatu yang lebih besar. Bukan sekadar soal BBM, tapi gambaran dilema transisi energi Indonesia.

Di satu sisi, negara ingin:

  • menurunkan emisi,
  • mengurangi impor energi,
  • membangun ekonomi hijau.

Di sisi lain, masyarakat masih sangat sensitif terhadap harga. Selama harga menjadi faktor utama, pasar akan memilih opsi termurah. Karena itu, pertanyaan terbesar transisi energi Indonesia mungkin bukan “Apakah kita punya teknologi hijau?” Melainkan “Siapa yang akan membayar biaya transisinya?”

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 17 Jun 2026