finansial
Selasa, 31 Maret 2026 11:23 WIB
Penulis:Justina Nur Landhiani

JAKARTA — Apakah Anda pernah merasa sayang ingin berhenti menaruh uang di sebuah instrumen investasi hanya karena sudah terlanjur menggelontorkan banyak uang di instrumen investasi tersebut? Padahal, kondisi investasi sebenarnya sudah tidak menguntungkan, tapi Anda sayang untuk memutuskan menghentikannya.
Situasi seperti ini sebetulnya sering terjadi, bahkan bukan lagi sekadar perhitungan finansial, melainkan bias psikologis yang sering disebut sebagai sunk cost fallacy.
Lalu, apa itu sunk cost fallacy dan bagaimana cara mengatasinya? Simak penjelasan berikut ini
BACA JUGA: Rekomendasi Beasiswa Luar Negeri yang Beri Tunjangan Keluarga
Dilansir dari Verywell Mind, sunk cost fallacy adalah suatu bias kognitif yang membuat Anda merasa harus terus menerus mengeluarkan uang, waktu, atau tenaga dalam suatu situasi hanya karena sudah terlanjur banyak berinvestasi di dalamnya.
Perasaan tersebut membuat Anda sulit untuk berhenti, karena merasa tidak ingin usaha atau sumber daya yang sudah dikeluarkan jadi sia-sia.
Saat terjebak dalam kondisi sunk cost fallacy, rasa kehilangan seolah terasa lebih berat daripada potensi keuntungannya. Hal itu membuat kita memutuskan sesuatu berdasarkan masa lalu, bukan karena manfaat yang bisa kita peroleh di masa depan.
Menurut National Institutes of Health (NIH), kondisi ini bisa mendorong pengambilan keputusan yang tidak rasional dan lebih dipengaruhi emosi. Akibatnya, seseorang terus mengeluarkan sumber daya untuk sesuatu yang sebenarnya sudah tidak menguntungkan, daripada memilih untuk berhenti.
BACA JUGA: 7 Cara Kelola Keuangan Setelah Lebaran Agar Tetap Stabil
Sunk cost fallacy juga menjadi bias yang kerap dialami oleh para investor. Investor yang mengalami hal ini cenderung tidak mau menjual saham meski performanya sudah memburuk. Bahkan, mereka juga sering membenarkan keputusan ini dengan mencoba menenangkan diri bahwa sahamnya akan pulih.
Selain itu, investor yang terjangkit fenomena ini cenderung lebih berfokus pada harga beli instrumen investasi di masa lalu, padahal sudah tidak relevan lagi untuk sekarang atau masa depan. Mereka juga cenderung ragu untuk keluar dari posisinya sekarang karena takut rugi.
BACA JUGA: Ternyata Ini Alasan Masyarakat Indonesia Borong Emas Jelang Lebaran
Bias ini memang sulit untuk dihindari, apalagi bagi para investor yang sudah melibatkan banyak uang di dalamnya. Namun, ada cara untuk meminimalisir dampaknya, sebagai berikut.
Jika jawabannya selalu tidak, mungkin sudah saatnya mengubah arah. Hal terpenting yang harus Anda lakukan adalah fokuslah pada masa depan, bukan pada apa yang sudah terlanjur terjadi.
Itu tadi penjelasan mengenai bias sunk cost fallacy yang ternyata juga bisa berdampak saat melakukan investasi serta cara untuk mengatasinya.