Ingin Coba Beli Saham Emas? Cek Dulu Prospek ANTM, MDKA hingga BRMS

Jumat, 03 Juli 2026 09:11 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

Ingin Coba Beli Saham Emas? Cek Dulu Prospek ANTM, MDKA hingga BRMS
Ingin Coba Beli Saham Emas? Cek Dulu Prospek ANTM, MDKA hingga BRMS (null)

JAKARTA – Saham-saham emiten emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menjadi sorotan setelah harga emas dunia dan emas Antam bergerak fluktuatif dalam beberapa hari terakhir. Di tengah tekanan pada harga emas global, sejumlah perusahaan masih mampu membukukan kinerja keuangan yang solid, sementara emiten lainnya harus menghadapi tantangan akibat aksi korporasi maupun sentimen regulasi.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan di kalangan investor, apakah saham emas masih layak dikoleksi pada paruh kedua 2026 atau justru sebaiknya diwaspadai di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca juga : Menyibak IPO RANS: Risiko Bisnis Dan Struktur Kepemilikan

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ulasan lengkap mengenai proyeksi harga emas dan proyeksi emiten sektor emas di BEI.

Daftar Emiten Sektor Emas

Indonesia memiliki sejumlah perusahaan tambang emas yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia dengan karakteristik bisnis yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya merupakan produsen emas murni, sementara lainnya memiliki portofolio tambang yang lebih terdiversifikasi.

Daftar emiten sektor emas di BEI meliputi:

  • PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang mengelola tambang Tujuh Bukit serta memiliki portofolio emas, tembaga, dan nikel.
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), perusahaan BUMN yang bergerak di bisnis emas, nikel, bauksit, serta dikenal memiliki kebijakan dividen yang relatif konsisten.
  • PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), anak usaha MDKA yang fokus pada bisnis emas dan resmi melakukan IPO pada 2025.
  • PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), salah satu produsen emas terbesar di Asia Tenggara.
  • PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), yang berfokus pada eksplorasi dan pengembangan tambang emas melalui pembangunan fasilitas Carbon in Leach (CIL).
  • PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), yang mengoperasikan tambang emas di Indonesia dan Malaysia.
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), yang dikenal sebagai produsen tembaga dan emas terbesar di Indonesia serta menjadi salah satu saham tambang yang banyak dipantau investor.

Harga emas batangan Antam mengalami pergerakan naik turun sepanjang akhir Juni hingga awal Juli 2026. Pergerakan harga tersebut antara lain,

  • Pada Senin, 22 Juni, harga emas Antam berada di Rp2.668.000 per gram.
  • Pada Selasa, 30 Juni, harga naik menjadi Rp2.751.000 per gram.
  • Pada Rabu, 1 Juli, harga turun Rp15.000 menjadi Rp2.625.000 per gram.
  • Pada Kamis, 2 Juli, harga kembali naik Rp15.000 menjadi Rp2.640.000 per gram.

Selama sepekan terakhir, harga emas Antam bergerak di kisaran Rp2.625.000 hingga Rp2.660.000 per gram. Secara year-to-date (YTD), harga emas masih mencatat kenaikan dari sekitar Rp2.488.000 menjadi Rp2.640.000 per gram.

Meski demikian, posisi tersebut masih jauh di bawah rekor tertinggi tahun 2026, yakni Rp3.168.000 per gram yang tercatat pada 29 Januari 2026.

Artinya, harga emas Antam saat ini masih sekitar 16,7% lebih rendah dibandingkan puncaknya pada awal tahun.

Tidak hanya emas domestik, harga emas global juga mengalami tekanan. Pada awal Juli 2026, harga emas dunia sempat turun hingga sekitar US$3.960 per troy ounce sebelum kembali pulih ke kisaran US$4.010 per troy ounce.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Referensi (HR) emas periode I Juli 2026 sebesar US$4.214,92 per troy ounce, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Baca juga : Penutupan LQ45 Hari Ini: BRPT dan EMTK Meroket, JPFA Ambles

ANTM Menjadi Primadona Investor Asing

Di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, saham ANTM justru menjadi salah satu saham yang paling banyak diburu investor asing. Dalam periode sepekan sejak 22 Juni 2026, investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp306,45 miliar pada saham ANTM.

Pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, saham ANTM ditutup menguat 6,13% ke level Rp2.770 per saham. Selain didukung sentimen harga emas, ANTM juga masih menarik karena memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.

Dividend yield ANTM diperkirakan berada di kisaran 5% hingga 10% per tahun, dengan dividend payout ratio sekitar 70% hingga 100%. MDKA Catat Pertumbuhan Kinerja yang Signifikan

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) membukukan kinerja yang jauh lebih baik pada kuartal I-2026.

Beberapa indikator utama meliputi:

  • pendapatan mencapai US$620,3 juta, meningkat 24% secara tahunan (year on year/YoY);
  • EBITDA melonjak 182% YoY menjadi US$249,9 juta;
  • kontribusi EBITDA dari bisnis emas mencapai sekitar US$89 juta;
  • laba bersih mencapai US$57,5 juta, berbalik dari rugi US$3,7 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, saham MDKA sempat menghadapi tekanan setelah muncul wacana kenaikan tarif royalti mineral dan batu bara (minerba). Saat isu tersebut mencuat, harga saham MDKA sempat terkoreksi hingga 14,69% ke level Rp2.730 per saham.

BRMS Masih Mendapat Rekomendasi "Buy"

PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga mencatatkan pertumbuhan laba pada kuartal pertama 2026.

Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$18,05 juta, meningkat 22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, enam analis yang memantau saham BRMS masih memberikan rekomendasi "Buy". Target harga rata-rata yang diberikan berada di kisaran Rp1.188 per saham, sehingga masih terdapat potensi kenaikan dibandingkan harga saat ini.

AMMN Diproyeksikan Memasuki Fase Pertumbuhan Baru

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diperkirakan memasuki fase pertumbuhan yang lebih kuat sepanjang 2026. Menurut proyeksi BRI Danareksa Sekuritas, pendapatan AMMN tahun ini diperkirakan mencapai sekitar US$4 miliar

Angka tersebut meningkat sekitar 117% dibandingkan tahun sebelumnya. Prospek tersebut didukung oleh peningkatan produksi tambang serta harga komoditas yang masih relatif tinggi.

EMAS Hadapi Volatilitas Tinggi

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi salah satu emiten yang paling menarik perhatian pasar tahun ini. Perusahaan resmi melakukan dual listing di Bursa Hong Kong (HKEX) pada 26 Juni 2026 dengan kode saham 6228.

Langkah tersebut diharapkan membuka akses terhadap investor global. Namun demikian, saham EMAS justru sempat mengalami pelemahan setelah pencatatan tersebut.

Analis juga menilai EMAS sebagai saham dengan tingkat risiko yang relatif tinggi. Volatilitas mingguan saham ini mencapai sekitar 12%, lebih tinggi dibandingkan 75% saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Baca juga : Mengenal PPN PMSE yang Bikin Strava Kena Pajak 11 Persen

ARCI Tertekan Aksi Divestasi Rajawali Corpora

Saham Archi Indonesia (ARCI) juga menghadapi tekanan. Pada 23 Juni 2026, Rajawali Corpora melepas sekitar 16,6 miliar saham ARCI

Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp18,27 triliun. Setelah aksi divestasi tersebut, harga saham ARCI sempat turun sekitar 7,01% ke level Rp995 per saham.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 03 Jul 2026