Investor
Selasa, 21 Juli 2026 15:31 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - Harga emas dunia mencatatkan kinerja negatif setelah terkoreksi sekitar 4,7% dalam sebulan terakhir. Penurunan tersebut membawa harga emas mendekati level psikologis US$4.000 per troy ounce, atau setara sekitar Rp2,6 juta per gram.
Koreksi harga logam mulia ini dipengaruhi oleh melonjaknya harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi, sehingga memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi.
Situasi ini diperkirakan membuat investor cenderung mengalihkan modal mereka ke aset yang memberikan imbal hasil langsung, sehingga menekan daya tarik emas di pasar spot internasional. Selain itu, koreksi harga ini memberikan sentimen negatif jangka pendek bagi para pemegang aset yang berharap pada penguatan harga harian.
Meski demikian, bagi sebagian pelaku pasar, penurunan ini justru dipandang sebagai peluang emas untuk melakukan akumulasi atau pembelian di harga yang lebih murah (buy on weakness). Sifat emas sebagai aset aman (safe haven) dinilai tetap solid dalam jangka panjang untuk melindungi nilai kekayaan dari inflasi.
BACA JUGA: Mulai Ubah Strategi, Ini Daftar Saham yang Banyak Dibeli Investor Asing
Eskalasi konflik bersenjata yang terus membara di Timur Tengah—termasuk serangan intensif AS terhadap sasaran di Iran—telah mengganggu rantai pasok energi global dan mendorong harga minyak Brent melewati US$90 per barel. Sementara itu, kenaikan tajam harga bahan bakar ini otomatis membangkitkan kekhawatiran inflasi global yang akan kembali melonjak.
Akibatnya, para pejabat bank sentral AS (The Fed), seperti Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, menyuarakan pentingnya bersikap defensif (hawkish) dengan mempertahankan suku bunga tinggi. Karena suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil langsung, investor institusi memilih melepas emas dan beralih ke aset lain. Sentimen negatif ini diperparah oleh lesunya permintaan fisik dari perhiasan emas di China dan India.
Dengan kondisi di atas bisa diperkirakan, harga emas jatuh mendekati US$4.000 per ons akibat ancaman inflasi global dari lonjakan harga minyak Brent dan sikap hawkish The Fed, membuka peluang diskon investasi emas jangka panjang bagi investor ritel.
Disclaimer: Informasi pada artikel ini hanya untuk tujuan informasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat investasi. Setiap keputusan investasi yang Anda buat adalah risiko Anda sendiri. Pastikan untuk melakukan riset dan konsultasi dengan penasihat keuangan sebelum membuat keputusan investasi.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh trenasia pada 20 Jul 2026