Uang
Senin, 03 Agustus 2026 15:57 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA – Cara setiap generasi mempersiapkan dan menjalani masa pensiun terus mengalami perubahan. Jika generasi Baby Boomers umumnya memanfaatkan masa pensiun untuk mengeksplorasi hobi atau aktivitas baru, Generasi X (Gen X) justru lebih memilih kembali menikmati kegiatan yang pernah menjadi bagian dari masa muda mereka.
Perbedaan pola tersebut diungkapkan oleh Benjamin Brandt, seorang Certified Financial Planner yang telah hampir 20 tahun mendampingi masyarakat dalam merencanakan masa pensiun. Menurutnya, cara kedua generasi memaknai pensiun menunjukkan perbedaan yang cukup jelas.
Dalam kanal YouTube Even Better Retirement, Brandt menjelaskan bahwa Baby Boomers cenderung menerapkan konsep retire forward, yakni memulai babak baru dengan pengalaman yang berbeda. Sementara itu, Gen X lebih memilih pendekatan retire backward, yaitu kembali menekuni hobi dan aktivitas yang pernah mereka nikmati di masa lalu.
BACA JUGA: Mengapa Penyakit yang Identik Lansia Kini Banyak Menyerang Anak Muda?
Brandt mengatakan banyak klien dari kalangan Baby Boomers menjawab pertanyaan tentang rencana pensiun dengan daftar aktivitas yang selama ini belum sempat mereka lakukan karena kesibukan bekerja.
Beberapa di antaranya ingin menghabiskan waktu berkebun, bermain golf beberapa kali dalam sepekan, hingga membuat furnitur di garasi rumah.
Menurut Brandt, pendekatan tersebut berarti mereka membangun masa pensiun berdasarkan harapan terhadap aktivitas yang belum pernah dijalani secara rutin.
"Baby Boomers pensiun untuk mengejar aktivitas yang selama ini mereka impikan tetapi belum sempat dilakukan," ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa strategi tersebut mengandung risiko karena didasarkan pada asumsi bahwa aktivitas yang dibayangkan akan tetap menyenangkan ketika dijalani setiap hari.
Dalam praktiknya, tidak sedikit pensiunan yang kemudian merasa bosan setelah beberapa waktu menjalani hobi tersebut.
BACA JUGA: 5 Pengeluaran Terbesar yang Menguras Uang Tabungan Pensiun
Berbeda dengan Baby Boomers, Gen X justru memanfaatkan pengalaman masa lalu sebagai dasar merancang kehidupan setelah pensiun.
Brandt menilai pendekatan ini lebih realistis karena didasarkan pada aktivitas yang memang sudah terbukti mereka nikmati.
Ia mencontohkan sejumlah kliennya yang berencana menghidupkan kembali band musik lama, kembali bermain skateboard, hingga menggelar turnamen permainan kartu Magic: The Gathering saat memasuki masa pensiun.
Menurutnya, dalam beberapa tahun mendatang akan semakin banyak orang dari Generasi X yang kembali menekuni hobi populer era 1980-an dan 1990-an.
Pendekatan ini dinilai lebih aman karena tidak bergantung pada perkiraan, melainkan pengalaman nyata yang telah terbukti memberikan kepuasan.
Brandt menilai perbedaan pola pikir tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang dialami masing-masing generasi.
Baby Boomers merupakan generasi pertama yang menikmati masa pensiun dengan durasi relatif panjang. Sebagian besar masih memiliki dana pensiun dari perusahaan atau skema pensiun tradisional sehingga memiliki kepastian pendapatan setelah berhenti bekerja.
Sementara itu, Gen X tumbuh dalam kondisi yang berbeda. Banyak dari mereka mengandalkan tabungan investasi pribadi sebagai sumber dana pensiun sehingga harus lebih cermat dalam mengelola keuangan.
Kondisi tersebut membuat Gen X memiliki ruang kesalahan yang lebih kecil sehingga mereka cenderung menyusun rencana pensiun secara lebih matang dan berdasarkan pengalaman yang sudah terbukti menyenangkan.
BACA JUGA: Inilah Alasan Lansia Jepang Tetap Pilih Bekerja
Brandt menilai tidak ada pendekatan yang sepenuhnya benar atau salah. Namun, ia menyarankan agar siapa pun yang sedang merencanakan masa pensiun tidak hanya berfokus pada kondisi keuangan, tetapi juga memikirkan bagaimana mengisi waktu secara bermakna.
Menghidupkan kembali hobi lama, mempererat hubungan sosial, atau kembali menjalani aktivitas yang pernah memberikan kebahagiaan dinilai dapat membantu menciptakan masa pensiun yang lebih memuaskan dan berkelanjutan, tanpa harus bergantung pada ekspektasi yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Tulisan ini telah tayang di sijori.id oleh Pratiwi pada 29 Jul 2026