Gara-gara Rupiah Rp18.000, Kini Petani Hadapi Beban Berlapis!

Jumat, 12 Juni 2026 19:34 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

Gara-gara Rupiah Rp18.000, Kini Petani Hadapi Beban Berlapis!
Gara-gara Rupiah Rp18.000, Kini Petani Hadapi Beban Berlapis! (BRI)

JAKARTA - Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS tidak hanya berdampak pada sektor keuangan dan industri, tetapi juga berpotensi memberi tekanan besar terhadap sektor pertanian. Dampak tersebut dapat dirasakan langsung oleh jutaan petani melalui meningkatnya biaya operasional usaha tani.

Kenaikan biaya produksi terjadi karena sejumlah kebutuhan pertanian, seperti pupuk, pestisida, benih, hingga komponen distribusi, masih memiliki keterkaitan dengan bahan baku atau produk impor. Ketika nilai tukar rupiah melemah, harga berbagai input pertanian tersebut ikut terdorong naik.

Situasi ini membuat petani harus mengeluarkan modal yang lebih besar untuk menanam dan memanen hasil pertanian. Sementara itu, harga jual komoditas di tingkat pasar domestik tidak selalu meningkat seiring kenaikan biaya produksi. Ketimpangan tersebut berpotensi menekan margin keuntungan dan mengurangi pendapatan yang diterima petani.

Kondisi ini menciptakan tekanan ekonomi berlapis yang dapat memengaruhi kesejahteraan petani sekaligus berisiko terhadap ketahanan pangan nasional.

Baca juga : Apa Yang Terjadi Bila Rupiah Terjun ke Rp20.000 per Dolar AS?

Mengapa Rupiah Melemah Membuat Biaya Pertanian Naik?

Pelemahan rupiah membuat harga barang impor menjadi lebih mahal karena pelaku usaha harus membayar lebih banyak rupiah untuk mendapatkan dolar AS. Hal ini berdampak langsung terhadap sektor pertanian Indonesia yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku dari luar negeri.

Komponen seperti bahan baku pupuk, pestisida, benih unggul, alat pertanian, hingga pakan ternak mengalami tekanan harga ketika kurs dolar menguat.

Di tingkat lapangan, dampak tersebut sudah mulai terlihat. Di Lombok Timur, misalnya, harga obat pertanian mengalami kenaikan dari sekitar Rp18.000 menjadi Rp20.000 per kemasan.

Salah satu perwakilan Komunitas Duta Sayur Timbanuh, Lombok Timur, Yunandi, harga berbagai jenis obat pertanian mengalami lonjakan signifikan sehingga menambah beban biaya produksi petani sayur di Lombok Timur. 

Sementara kajian lembaga riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan depresiasi rupiah turut mendorong kenaikan harga pupuk sekitar 0,63% dan pestisida sekitar 0,70%.

Tidak hanya itu, sejumlah kebutuhan pendukung pertanian juga ikut mengalami kenaikan harga. Harga plastik kemasan hasil panen meningkat dari sekitar Rp12.000 menjadi Rp18.000 per pak, sementara plastik mulsa yang digunakan untuk budidaya tanaman naik dari sekitar Rp700.000 menjadi Rp900.000 per rol.

Baca juga : Alasan Investasi di Vietnam Lebih Menarik Dibanding Indonesia

Pupuk Subsidi Membantu, Tapi Menjangkau Semua Petani

Pemerintah telah berupaya menekan beban petani melalui kebijakan pupuk subsidi. Pada Oktober 2025, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi diturunkan sekitar 20%, sehingga harga pupuk urea menjadi sekitar Rp1.800 per kilogram dan pupuk NPK sekitar Rp1.840 per kilogram.

Namun, perlindungan tersebut tidak bisa dirasakan seluruh petani. Hanya petani yang memenuhi kriteria tertentu dan masuk dalam alokasi penerima subsidi yang dapat menikmati harga tersebut.

Sementara itu, petani yang menggunakan pupuk non-subsidi atau kebutuhan produksi lain yang berbasis impor tetap harus menghadapi kenaikan biaya akibat pelemahan nilai tukar rupiah.

Harga Makanan di Meja Makan Petani Juga Bisa Naik

Ironisnya, petani bukan hanya terdampak sebagai produsen, tetapi juga sebagai konsumen.

Ketika rupiah melemah, berbagai bahan pangan impor yang dikonsumsi masyarakat desa juga ikut mengalami kenaikan harga. Produk berbahan gandum seperti mi instan dan roti, serta produk berbasis kedelai seperti tahu dan tempe menjadi contoh yang paling rentan.

Indonesia masih sangat bergantung pada kedelai impor dengan porsi mencapai sekitar 98% dari kebutuhan nasional. Ketika nilai tukar rupiah melemah, harga kedelai impor meningkat dari kisaran Rp9.300 per kilogram menjadi lebih dari Rp11.000 per kilogram.

Untuk mengurangi tekanan tersebut, pemerintah menyiapkan subsidi sekitar Rp2.000 per kilogram untuk 250.000 ton kedelai, terutama untuk menjaga keberlangsungan industri tahu dan tempe.

Biaya Transportasi dan Distribusi Ikut Membengkak

Dampak pelemahan rupiah juga menjalar ke sektor energi dan logistik. Ketika biaya bahan bakar meningkat, biaya transportasi dari kota ke desa maupun pengangkutan hasil panen ke pasar juga ikut naik.

Pemerintah telah menaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green 95 yang kini dibanderol Rp17.000 per liter, naik dari harga sebelumnya Rp12.900 per liter.

Bagi petani kecil, tambahan biaya distribusi ini menjadi persoalan serius karena mengurangi pendapatan bersih yang mereka terima setelah panen.

Sebagai contoh, petani sayur yang harus mengirim hasil panennya ke pasar induk akan menghadapi biaya sewa kendaraan dan distribusi yang lebih mahal. Jika harga jual sayuran tidak naik sesuai kenaikan biaya tersebut, keuntungan petani akan semakin kecil.

Baca juga : Melanggengkan Ketergantungan dari BLT Rp5,4 Juta per Tahun

Ancaman Jangka Panjang

Tekanan biaya yang terus meningkat dapat memaksa petani kecil melakukan penghematan dengan mengurangi penggunaan pupuk, pestisida, atau perawatan tanaman lainnya.

Langkah tersebut mungkin dapat menekan pengeluaran dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, pengurangan input pertanian berisiko menurunkan produktivitas lahan dan volume panen.

Jika produksi pangan nasional menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga pangan dapat meningkat dan menambah tekanan inflasi.

Dengan kata lain, pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada kondisi ekonomi petani saat ini, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan dan harga pangan nasional pada masa mendatang.

Dalam jangka panjang, pelemahan rupiah menjadi pengingat penting bahwa ketahanan pangan Indonesia tidak hanya bergantung pada luas lahan dan hasil panen, tetapi juga pada kemampuan negara mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian impor.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 12 Jun 2026