Kopi
Kamis, 18 Juni 2026 15:35 WIB
Penulis:Justina Nur Landhiani

JAKARTA — Starbucks Korea akhir-akhir ini menjadi sorotan usai kebijakannya yang secara sementara menutup seluruh gerainya secara bersamaan. Hal itu dilakukan agar para pekerja mengikuti pelajaran sejarah wajib, akibat promosi Starbucks yang dianggap menyinggung peristiwa kelam dalam sejarah Korea Selatan.
Seperti yang dilansir dari The Guardian, Starbucks mengumumkan bahwa ada lebih dari 2.000 gerai Starbucks di Korsel yang tutup sementara pada pukul 15.00 waktu setempat pada 22 Juni. Selama gerai ditutup, karyawan diwajibkan untuk mengikuti pelajaran mengenai sejarah modern Korea serta pelatihan yang terkait sensitivitas sosial.
Menurut IGAWorks, penutupan gerai selama setengah hari ini diperkirakan bisa menyebabkan Starbucks kehilangan pendapatan sampai kira-kira 2,1 miliar won atau sekitar Rp24 miliar.
BACA JUGA: Pernah Jadi Super Produktif Saat Kepepet? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Seperti yang dilaporkan oleh The Guardian, upaya ini dilakukan Starbucks Korea usai menghadapi krisis hubungan masyarakat setelah promosi diskon untuk seri tumbler ‘Tank’ yang dirilis pada 18 Mei lalu.
Tanggal tersebut ternyata bertepatan dengan peringatan tragedi Gwangju 1980, sebuah peristiwa berdarah yang menjadi simbol perjuangan demokrasi di Korea Selatan.
Pada peristiwa tersebut, selama sekitar 10 hari pada Mei 1980, pasukan militer menumpas demonstrasi prodemokrasi yang menentang pemerintahan militer pimpinan Chun Doo-hwan. Kelompok korban memperkirakan ratusan orang tewas dalam peristiwa tersebut.
Kontroversi Starbucks ini semakin besar karena perusahaan tersebut menamai promosi tersebut sebagai "Tank Day". Selain itu, kampanye tersebut juga menggunakan slogan yang dapat diterjemahkan sebagai "menghantam meja".
Ungkapan tersebut mengingatkan publik pada kasus kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chul pada 1987 akibat penyiksaan saat pemeriksaan polisi. Saat itu, pihak berwenang secara keliru mengklaim bahwa korban meninggal setelah seorang petugas "menghantam meja" ketika proses interogasi berlangsung.
BACA JUGA: 5 Rekomendasi Film Horor Terbaru di Bioskop Juni 2026, Ada Backrooms!
Akibat adanya blunder ini, menurut laporan The Guardian, volume transaksi Starbucks sampai anjlok hingga 26% di minggu pertama usai kontroversi terjadi.
Promosi yang dilakukan oleh Starbucks ini juga menimbulkan boikot dari pelanggan, aksi penghancuran tumbler dan mug Starbucks. Bahkan, sejumlah kementerian pemerintah Korsel memutuskan untuk menghentikan kerja sama dengan perusahaan tersebut.
BACA JUGA: Paling Rentan, 137 Juta Warga Kini Masuk Kelompok 'Menuju' Kelas Menengah!
Dikutip dari The Guardian, Shinsegae Group yang mengoperasikan Starbucks Korea lewat lisensi dari perusahaan induknya di AS menjelaskan bahwa slogan kontroversial ‘Tank Day’ tersebut dipilih setelah tim pemasaran meminta rekomendasi dari alat kecerdasan buatan (AI).
Investigasi internal kemudian menemukan bahwa beberapa manajer yang menyetujui kampanye tersebut bahkan tidak membuka lampiran email yang berisi materi promosi secara lengkap sebelum memberikan persetujuan.
Starbucks menarik kampanye itu hanya beberapa jam setelah diluncurkan. Namun dampaknya terlanjur meluas, dan CEO perusahaan diberhentikan pada hari yang sama.