Investor
Kamis, 16 Juli 2026 09:53 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA — Musim pembagian dividen di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berlangsung hingga penghujung Juli 2026. Berbagai emiten dari sektor properti, barang konsumsi, telekomunikasi, pertambangan nikel, hingga jasa pertambangan dijadwalkan membagikan dividen tunai kepada para investornya.
Dividen menjadi salah satu daya tarik bagi investor karena dapat memberikan tambahan imbal hasil selain keuntungan dari kenaikan harga saham (capital gain). Meski demikian, membeli saham semata-mata karena iming-iming dividen besar juga tidak lepas dari risiko, salah satunya dividend trap, yaitu kondisi ketika penurunan harga saham lebih besar daripada nilai dividen yang diterima sehingga investor tetap mengalami kerugian.
Baca juga : Penutupan LQ45 Hari Ini: ESSA dan ANTM Perkasa, KLBF Loyo
Lalu, emiten mana saja yang akan membagikan dividen pada akhir Juli 2026? Mana yang relatif aman dan mana yang perlu diwaspadai?
Berdasarkan jadwal pembagian dividen yang telah diumumkan perusahaan, terdapat sedikitnya tujuh emiten yang akan melakukan pembayaran dividen hingga akhir Juli 2026.
Emiten properti milik Grup Ciputra ini akan membagikan dividen sebesar Rp36 per saham dengan total nilai sekitar Rp667 miliar. Dividen tersebut berasal dari laba bersih tahun buku 2025 yang mencapai sekitar Rp2,66 triliun. Pembayaran dijadwalkan dilakukan pada 24 Juli 2026.
Pembagian dividen ini sekaligus menunjukkan kemampuan CTRA menjaga profitabilitas di tengah kondisi sektor properti yang masih dipengaruhi dinamika suku bunga dan daya beli masyarakat.
Produsen Indomie dan berbagai produk makanan konsumen ini membagikan dividen sebesar Rp265 per saham. Total dividen yang dibayarkan mencapai sekitar Rp3 triliun dan akan didistribusikan kepada pemegang saham pada 28 Juli 2026.
Sebagai salah satu saham konsumer terbesar di Indonesia, ICBP dikenal memiliki rekam jejak pembagian dividen yang relatif konsisten.
Perusahaan induk Grup Indofood juga membagikan dividen tunai sebesar Rp290 per saham. Total nilai dividen mencapai sekitar Rp2,54 triliun dengan jadwal pembayaran pada 29 Juli 2026.
INDF selama bertahun-tahun menjadi salah satu saham pilihan investor dividen karena memiliki portofolio bisnis yang terdiversifikasi mulai dari makanan, agribisnis hingga distribusi.
Anak usaha Telkom Indonesia ini membagikan dividen sebesar Rp25,65 per saham. Total dividen yang disalurkan mencapai sekitar Rp2,08 triliun dengan pembayaran dilakukan pada 31 Juli 2026.
Yang menarik perhatian adalah Dividend Payout Ratio (DPR) MTEL mencapai sekitar 98%, artinya hampir seluruh laba tahun buku 2025 dibagikan kepada pemegang saham.
Baca juga : RANS dan PRDL Melesat Saat IHSG Ditutup Stagnan
WIFI menetapkan dividen sebesar Rp2 per saham dengan total pembayaran sekitar Rp10,6 miliar. Pembayaran dijadwalkan pada 31 Juli 2026. Meski membagikan dividen, dividend yield perusahaan diperkirakan hanya sekitar 0,12%, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan investor relatif kecil.
Emiten Harita Nickel ini membagikan dividen sebesar Rp42,64 per saham. Total dividen mencapai sekitar Rp2,7 triliun dengan rasio pembayaran dividen sekitar 30% dari laba bersih.
Pendekatan tersebut dinilai cukup konservatif karena perusahaan masih menyisakan sebagian besar laba untuk mendukung ekspansi bisnis hilirisasi nikel.
DEWA menjadi salah satu emiten yang mencuri perhatian karena membagikan dividen perdana sejak melantai di Bursa Efek Indonesia.Perseroan menetapkan dividen sebesar Rp1,5 per saham atau sekitar Rp58,6 miliar, dengan jadwal pembayaran pada 31 Juli 2026. Walaupun menjadi momentum penting bagi perusahaan, nilai dividen yang diberikan masih relatif kecil.
Istilah dividen trap mengacu pada kondisi ketika investor membeli saham hanya demi memperoleh dividen, tetapi akhirnya mengalami kerugian karena harga saham turun lebih besar dibandingkan nilai dividen yang diterima.
Fenomena ini biasanya terjadi setelah cum date, yaitu hari terakhir investor membeli saham agar tercatat sebagai penerima dividen.
Pada hari ex-date, harga saham secara teori akan disesuaikan sebesar nilai dividen yang dibagikan. Dalam praktiknya, tekanan jual dari investor yang melakukan aksi ambil untung dapat menyebabkan penurunan harga jauh lebih besar.
Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan membagikan dividen sebesar Rp300 per saham. Seorang investor membeli saham menjelang cum date karena berharap memperoleh dividen tersebut.
Baca juga : Saham TLKM Masih Murah? Asing Borong Saat Pasar Berdarah
Namun pada hari ex-date, harga saham turun Rp500 per saham akibat aksi jual besar-besaran. Walaupun investor tetap menerima dividen Rp300, secara keseluruhan ia masih mengalami kerugian sekitar Rp200 per saham akibat penurunan harga, inilah yang dikenal sebagai dividen trap.
Investor sebaiknya tidak hanya terpaku pada besarnya dividend yield. Ada beberapa indikator yang perlu diperhatikan sebelum membeli saham menjelang pembagian dividen.
Dividend yield yang jauh di atas rata-rata industri tidak selalu menjadi kabar baik. Sering kali yield tinggi muncul karena harga saham sudah turun drastis, bukan karena perusahaan mencetak laba yang jauh lebih besar.
Karena itu, investor perlu mencari tahu penyebab di balik tingginya dividend yield tersebut.
Perusahaan yang tetap membagikan dividen besar saat laba menurun patut dicermati. Dalam beberapa kasus, dividen dapat dibayarkan menggunakan saldo laba ditahan atau kas perusahaan.
Strategi ini memang dapat menjaga kepercayaan investor dalam jangka pendek, tetapi belum tentu berkelanjutan.
Kenaikan harga yang terlalu cepat sebelum cum date juga dapat menjadi sinyal kewaspadaan. Tidak sedikit pelaku pasar yang membeli saham hanya untuk memperoleh dividen, kemudian menjualnya kembali segera setelah ex-date. Akibatnya, harga saham berpotensi terkoreksi tajam.
Saham dengan volume transaksi yang kecil cenderung memiliki volatilitas lebih tinggi. Ketika banyak investor ingin keluar secara bersamaan, harga saham dapat turun lebih dalam karena minimnya pembeli.
Perusahaan yang hanya sesekali membagikan dividen besar layak dianalisis lebih dalam. Sebaliknya, emiten yang mampu membagikan dividen secara konsisten selama bertahun-tahun umumnya memiliki kualitas fundamental yang lebih baik.
Investor dapat mengurangi risiko dividen trap dengan menerapkan beberapa langkah berikut.
Sebelum membeli saham, pastikan perusahaan memiliki pertumbuhan laba yang stabil, arus kas yang sehat, serta struktur keuangan yang kuat. Jangan hanya mengejar dividend yield.
Dividend Payout Ratio menunjukkan persentase laba yang dibagikan sebagai dividen. Semakin tinggi DPR, semakin sedikit laba yang disimpan perusahaan untuk ekspansi maupun menghadapi ketidakpastian bisnis.
Sebagai contoh, MTEL memiliki DPR sekitar 98%, yang berarti hampir seluruh laba dibagikan kepada pemegang saham. Bagi investor pencari pendapatan dividen, kondisi ini memang menarik.
Namun, dari sisi pertumbuhan jangka panjang, ruang perusahaan untuk mengakumulasi modal menjadi lebih terbatas apabila kinerja di masa depan melemah.
Saham-saham blue chip umumnya memiliki risiko dividen trap yang lebih rendah. Perusahaan seperti ICBP dan INDF memiliki bisnis yang telah matang, laba relatif stabil, serta rekam jejak pembagian dividen yang konsisten.
Banyak investor ritel baru membeli saham beberapa hari sebelum cum date karena takut ketinggalan dividen. Padahal pada periode tersebut harga saham sering kali sudah mengalami kenaikan. Apabila ingin berinvestasi untuk jangka panjang, membeli setelah ex-date ketika harga mengalami penyesuaian dapat menjadi strategi yang lebih rasional.
Investor sebaiknya tidak mengalokasikan seluruh dana pada satu saham hanya karena menawarkan dividen tinggi. Diversifikasi tetap menjadi salah satu cara terbaik mengelola risiko investasi.
Dividen yang diterima investor tidak selalu sama dengan nilai yang diumumkan perusahaan. Investor juga perlu memperhitungkan ketentuan perpajakan yang berlaku agar memperoleh estimasi hasil investasi yang lebih realistis.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 16 Jul 2026