pertalite
Kamis, 02 April 2026 13:29 WIB
Penulis:Redaksi
Editor:Redaksi

JAKARTA - Harga BBM di Singapura tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia, yakni sekitar Rp58.000 per liter, sementara di Indonesia berada di kisaran Rp12.300 per liter. Selisih ini mencerminkan perbedaan pendekatan kebijakan energi di kedua negara.
Singapura menetapkan harga BBM mengikuti mekanisme pasar tanpa subsidi, sedangkan Indonesia masih menjaga harga tetap terjangkau lewat campur tangan pemerintah. Namun jika dilihat dari sisi daya beli masyarakat, situasinya justru menunjukkan perbandingan yang berbeda.
BACA JUGA: Harga Plastik Naik, Apa yang Harus Dilakukan Konsumen UMKM?
Pendapatan masyarakat Singapura yang jauh lebih tinggi membuat harga BBM yang mahal tidak terlalu membebani secara ekonomi. Dengan gaji yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per bulan, pengeluaran untuk BBM hanya mengambil porsi kecil dari total pendapatan.
Sebaliknya, di Indonesia, meskipun harga BBM lebih murah, beban terhadap masyarakat relatif lebih besar karena tingkat pendapatan yang lebih rendah. Akibatnya, proporsi pengeluaran untuk energi menjadi lebih tinggi, sehingga daya beli terhadap BBM sebenarnya lebih terbatas dibandingkan masyarakat di Singapura.
BACA JUGA: Ternyata Ini Alasan Harga Plastik Melambung Tinggi
Secara nominal, harga BBM di Singapura hampir lima kali lebih mahal dibanding Indonesia. Selain itu, Singapura tidak menyediakan BBM dengan RON rendah seperti Pertalite, karena standar minimum yang digunakan adalah RON95.
Dilansir data Tall Rock Capital, Senin, 30 Maret 2026, berikut data pendapatan masyarakat Singapura,
Perbedaan pendapatan antara kedua negara sangat signifikan. Gaji median di Singapura mencapai sekitar Rp96,3 juta per bulan, atau hampir delapan kali lipat dari rata-rata pendapatan di Indonesia.
Perbedaan ini menjadi faktor utama dalam menentukan daya beli masyarakat terhadap BBM, sehingga harga nominal tidak bisa menjadi satu-satunya indikator beban ekonomi.
Dari data diatas, diperoleh data perbandingan besaran perliter BBM yang dapat dibeli dari Gaji Bulanan
Dengan gaji median, pekerja di Singapura mampu membeli jauh lebih banyak BBM dibandingkan pekerja di Indonesia. Hal ini menunjukkan meskipun harga BBM tinggi, kemampuan beli tetap kuat.
Sebaliknya di Indonesia, meskipun harga lebih murah, jumlah BBM yang bisa dibeli relatif lebih sedikit karena pendapatan yang lebih rendah.
Perbandingan Full Tank 40 Liter
Jika dihitung dari proporsi gaji, beban mengisi penuh tangki kendaraan di Singapura justru lebih ringan dibanding Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa struktur pendapatan sangat menentukan beban ekonomi riil.
Dengan kata lain, masyarakat Indonesia mengalokasikan porsi pendapatan yang lebih besar untuk kebutuhan BBM dibanding masyarakat Singapura.
Tingginya biaya kepemilikan kendaraan di Singapura membuat sebagian besar masyarakat tidak menggunakan mobil pribadi. Akibatnya, konsumsi BBM individu menjadi lebih rendah.
Sebaliknya, masyarakat lebih bergantung pada transportasi umum yang efisien dan terintegrasi, sehingga dampak kenaikan BBM tidak langsung dirasakan secara luas.
Pemerintah Singapura fokus mengurangi ketergantungan terhadap BBM melalui kebijakan transportasi publik dan elektrifikasi kendaraan. Subsidi diberikan bukan ke BBM langsung, tetapi ke sistem transportasi.
Pendekatan ini berbeda dengan Indonesia yang masih mengandalkan subsidi langsung untuk menjaga harga BBM tetap rendah.
Perubahan Harga Maret 2026
Harga BBM di Singapura mengikuti mekanisme pasar sehingga lebih cepat naik saat terjadi gejolak global. Sementara itu, Indonesia menahan kenaikan harga melalui intervensi pemerintah.
Namun, stabilitas ini memiliki konsekuensi berupa tekanan terhadap anggaran negara, terutama saat harga minyak dunia meningkat.
Harga BBM di Singapura memang jauh lebih tinggi dibanding Indonesia, tetapi beban terhadap masyarakatnya lebih ringan karena tingkat pendapatan yang jauh lebih besar. Dari berbagai indikator seperti konsumsi bulanan, biaya full tank, hingga daya beli harian, masyarakat Singapura tetap lebih mampu menjangkau kebutuhan BBM.
Sebaliknya, di Indonesia, harga BBM yang lebih murah tidak sepenuhnya mencerminkan keterjangkauan karena pendapatan masyarakat yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan energi tidak bisa hanya dilihat dari harga, tetapi juga harus mempertimbangkan daya beli dan struktur ekonomi masyarakat secara keseluruhan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 31 Mar 2026