10 Mata Uang Terlemah Awal 2026, Rupiah Termasuk?

Kamis, 15 Januari 2026 13:15 WIB

Penulis:Redaksi

Editor:Redaksi

10 Mata Uang Terlemah Awal 2026, Rupiah Termasuk?
10 Mata Uang Terlemah Awal 2026, Rupiah Termasuk? (Freepik.com/8photo)

JAKARTA - Nilai tukar mata uang kerap dipakai sebagai indikator untuk menilai kondisi ekonomi suatu negara. Memasuki awal 2026, jajaran mata uang terlemah di dunia kembali diisi oleh negara-negara yang tengah bergulat dengan krisis ekonomi berkepanjangan, ketidakstabilan politik, sanksi global, serta lemahnya fondasi industri.

Meski demikian, para ekonom menekankan bahwa rendahnya nilai mata uang secara nominal tidak selalu mencerminkan kehancuran ekonomi, mengingat setiap negara memiliki konteks dan struktur ekonomi yang berbeda-beda.

Dikutip TrenAsia dari berbagai sumber,  Rabu, 14 Januari 2025, peringkat berikut disusun berdasarkan jumlah satuan mata uang yang dibutuhkan untuk menukar 1 Dolar Amerika Serikat (USD), dengan catatan nilai bisa bervariasi tergantung kurs resmi atau pasar.

BACA JUGA: Belajar dari Kasus Viral Roti'O, Tolak Cash Ternyata Langgar UU Mata Uang

Daftar Mata Uang Terlemah 2026

1. Pound Lebanon (LBP)

Pound Lebanon menempati posisi teratas sebagai mata uang terlemah di dunia dengan kisaran 89.556 LBP per USD. Kondisi ini mencerminkan kehancuran total sistem perbankan Lebanon sejak krisis 2019. 

Bank membatasi penarikan dana, tabungan warga menguap, dan pemerintah gagal melakukan reformasi fiskal. Hiperinflasi membuat gaji bulanan tak lagi cukup untuk kebutuhan mingguan, sementara selisih ekstrem antara kurs resmi dan pasar gelap menghancurkan kepercayaan publik terhadap negara dan institusi keuangan.

2. Rial Iran (IRR)

Rial Iran berada di posisi kedua dengan nilai sekitar 42.112 IRR per USD (kurs resmi), bahkan sejumlah analis menilai Rial Iran berada diposisi 1,4 juta per dolar Amerika Serikat pasca kerushuhan awal januari ini.

Kelemahan Rial bukan sekadar fenomena moneter, melainkan hasil lingkaran setan sanksi internasional, inflasi kronis, dan kebijakan ekonomi yang tidak efektif.

Ketergantungan Iran pada ekspor minyak, keterbatasan akses devisa, serta sistem kurs ganda menciptakan distorsi besar yang menggerus daya beli rakyat dan memicu pelarian modal.

3. Dong Vietnam (VND)

Dong Vietnam tercatat di kisaran 26.345 VND per USD, tetapi berbeda dari Lebanon dan Iran, kondisi ini bukan tanda krisis ekonomi. Pemerintah Vietnam secara sadar mempertahankan nilai tukar yang relatif rendah untuk mendukung ekspor, menarik investasi asing, dan menjaga daya saing manufaktur. 

Dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inflasi terkendali, Dong menunjukkan bahwa mata uang lemah secara nominal bisa menjadi alat kebijakan, bukan kegagalan ekonomi.

4. Kip Laos (LAK)

Kip Laos berada di sekitar 21.663 LAK per USD, mencerminkan tekanan berat akibat utang luar negeri yang tinggi dan cadangan devisa yang terbatas.

Ketergantungan pada impor energi dan bahan baku membuat Laos rentan terhadap fluktuasi global. Ketika devisa menipis, mata uang tertekan, inflasi meningkat, dan biaya hidup naik tajam, terutama bagi masyarakat berpendapatan rendah.

Baca juga : BI Perkuat Stabilitas Saat Gejolak Global Bayangi Rupiah

5. Rupiah Indonesia (IDR)

Rupiah Indonesia berada di kisaran 16.849 IDR per USD, menempatkannya dalam daftar ini secara nominal. Namun, para ekonom menilai kondisi ini tidak mencerminkan krisis ekonomi. 

Struktur Rupiah sejak lama memang menggunakan denominasi besar. Tekanan lebih banyak berasal dari faktor eksternal seperti suku bunga global, arus modal, dan ketidakpastian geopolitik. 

Stabilitas inflasi, pertumbuhan ekonomi positif, dan cadangan devisa yang memadai membuat Rupiah relatif tangguh dibanding mata uang negara krisis.

BACA JUGA: Menguak Sejarah Redenominasi Rupiah Era Presiden Soekarno yang Memicu Trauma

6. Som Uzbekistan (UZS): Dampak Reformasi dan Inflasi Transisi

Som Uzbekistan berada di level 11.862 UZS per USD, mencerminkan ekonomi yang sedang berada dalam fase transisi reformasi. Liberalisasi pasar, penyesuaian subsidi, dan pembukaan ekonomi menyebabkan inflasi jangka pendek. 

Meski melemah, Som mencerminkan proses penyesuaian menuju sistem ekonomi yang lebih terbuka dan terintegrasi secara global.

7. Franc Guinea (GNF): Ketergantungan Komoditas

Franc Guinea berada di sekitar 8.658 GNF per USD, dipengaruhi oleh ketergantungan tinggi pada ekspor bauksit dan komoditas mentah. Fluktuasi harga global langsung memengaruhi penerimaan negara dan stabilitas mata uang. Inflasi domestik dan ketidakpastian politik turut memperlemah daya beli Franc Guinea.

Baca juga : Purbaya: Pegawai Pajak Nakal akan Dirumahkan!

8. Franc Burundi (BIF): Ekonomi Kecil dan Terbatas

Franc Burundi, dengan nilai sekitar 8.755 BIF per USD, mencerminkan tantangan negara dengan basis industri yang sangat terbatas. Ekonomi Burundi sangat bergantung pada ekspor kopi dan teh, sementara inflasi dan keterbatasan devisa menekan mata uang. Kelemahan ini berdampak langsung pada harga pangan dan kebutuhan impor.

9. Ariary Madagaskar (MGA): Impor Tinggi, Produksi Rendah

Ariary Madagaskar berada di kisaran 4.638 MGA per USD. Nilai rendah ini mencerminkan ketergantungan tinggi pada impor, kapasitas industri domestik yang terbatas, serta inflasi yang menggerus daya beli. Mata uang yang lemah membuat biaya impor semakin mahal, memperparah tekanan ekonomi rumah tangga.

10. Guarani Paraguay (PYG): Rentan Siklus Komoditas

Guarani Paraguay berada di level 6.619 PYG per USD. Kelemahan ini berkaitan dengan struktur ekonomi yang sangat bergantung pada sektor pertanian dan komoditas, seperti kedelai dan daging. Ketika harga global turun atau terjadi gangguan cuaca, nilai tukar mudah tertekan.

Dibanding negara lain dalam daftar, Rial Iran adalah contoh ekstrem di mana mata uang lemah mencerminkan krisis kepercayaan total. Sanksi memotong devisa, inflasi menggerus pendapatan, dan kebijakan ekonomi yang tidak konsisten menciptakan tekanan berlapis yang langsung menghantam kehidupan sehari-hari rakyat.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 15 Jan 2026