Feature
Alasan Kita Sulit Merasa Cukup Meski Gaji Terus Bertambah
JAKARTA — Banyak orang pernah berpikir, "Kalau gaji saya Rp10 juta per bulan, hidup pasti sudah terasa cukup." Ada pula yang menetapkan target Rp15 juta, bahkan Rp30 juta, dengan harapan kondisi finansial akan lebih tenang setelah mencapainya.
Namun, kenyataannya sering kali berbeda. Setelah target penghasilan tercapai, muncul target baru yang dianggap sebagai standar hidup yang "cukup". Hal ini pun memunculkan pertanyaan yang tak mudah dijawab: sebenarnya berapa besar penghasilan yang dibutuhkan agar seseorang benar-benar merasa berkecukupan?
Berbagai ahli telah mencoba mencari jawabannya dari sudut pandang yang berbeda. Ekonom menganalisisnya melalui data pendapatan dan pengeluaran, psikolog mengaitkannya dengan persepsi seseorang terhadap kesejahteraan, sementara para peneliti perilaku menemukan bahwa rasa cukup tidak selalu meningkat seiring bertambahnya penghasilan atau tabungan. Karena itu, hingga kini belum ada angka pasti yang bisa dijadikan patokan bagi semua orang.
BACA JUGA: Rekomendasi LCGC Laris di GIIAS 2026, Cocok Buat Kaum Mendang-mending
Dalam ilmu ekonomi, penghasilan yang lebih tinggi membantu seseorang memenuhi kebutuhan dasar, mengurangi tekanan finansial, dan memberi lebih banyak pilihan dalam hidup.
Ketika seseorang mampu membayar biaya tempat tinggal, makanan, pendidikan, kesehatan, hingga memiliki dana darurat, tingkat stres akibat persoalan ekonomi cenderung menurun. Pada titik inilah uang berperan sebagai "peredam penderitaan", bukan semata-mata pembeli kebahagiaan.
Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi, bersama Angus Deaton pada 2010 sempat menggemparkan dunia melalui riset yang menyebut bahwa kebahagiaan sehari-hari cenderung berhenti meningkat setelah pendapatan mencapai sekitar US$75.000 per tahun di Amerika Serikat.
Temuan tersebut selama bertahun-tahun melahirkan kesimpulan populer bahwa "uang tidak lagi membuat orang lebih bahagia setelah melewati batas tertentu.
Namun satu dekade kemudian, psikolog Matthew Killingsworth melakukan penelitian menggunakan lebih dari 1,7 juta laporan pengalaman harian dari puluhan ribu responden. Hasilnya berbeda.
Menurut penelitian tersebut, kesejahteraan subjektif justru terus meningkat seiring kenaikan pendapatan, bahkan pada kelompok berpenghasilan tinggi. Tidak ditemukan titik berhenti yang jelas sebagaimana diasumsikan sebelumnya.
Perbedaan dua penelitian besar tersebut akhirnya mendorong Kahneman dan Killingsworth bekerja sama melakukan analisis ulang terhadap data masing-masing. Hasil kolaborasi yang dipublikasikan pada 2023 menghasilkan kesimpulan yang lebih bernuansa.
Bagi sekitar 80 persen responden, peningkatan pendapatan masih berkaitan dengan meningkatnya kebahagiaan. Namun bagi kelompok yang sejak awal memiliki tingkat kebahagiaan sangat rendah, tambahan uang hanya membantu sampai titik tertentu. Setelah itu, persoalan lain di luar uang menjadi lebih dominan.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antara uang dan kebahagiaan jauh lebih kompleks dibanding sekadar mencari angka ideal.
Lingkungan Pengaruhi Rasa Cukup
Jika dua orang menerima gaji yang sama, belum tentu keduanya merasa sama-sama cukup. Seorang lajang yang tinggal di kota kecil bisa merasa hidupnya nyaman dengan pendapatan Rp8 juta per bulan.
Sebaliknya, pasangan muda dengan dua anak di kota besar mungkin masih merasa kesulitan meski memperoleh penghasilan tiga kali lipat. Biaya hidup menjadi salah satu penentu utama. Harga rumah, pendidikan, transportasi, hingga layanan kesehatan terus berubah mengikuti kondisi ekonomi.
Selain itu, standar sosial ikut memengaruhi persepsi mengenai kecukupan. Ketika lingkungan sekitar memiliki gaya hidup yang lebih tinggi, target pendapatan seseorang ikut bergeser.

Fenomena ini dikenal sebagai relative income, yakni kecenderungan manusia menilai kesejahteraannya dengan membandingkan diri terhadap orang lain, bukan hanya berdasarkan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri.
Penelitian terbaru dalam Communications Psychology menunjukkan bahwa pendapatan yang lebih tinggi memang berkaitan dengan kepuasan hidup yang lebih baik. Namun, di saat yang sama, kelompok berpendapatan tinggi juga melaporkan tingkat stres yang lebih besar dibanding kelompok berpenghasilan lebih rendah.
Dikutip dari Science Direct, sebuah riset yang diterbitkan pada 2026 bahkan menyebut hubungan antara pendapatan dan kebahagiaan berbentuk kurva melengkung. Setelah kebutuhan utama terpenuhi, faktor lain seperti kualitas lingkungan, pendidikan, jam kerja, hingga hubungan sosial menjadi semakin menentukan kesejahteraan seseorang.
Mengapa Angka "Cukup" Terus Berubah?
Dalam psikologi perilaku dikenal konsep hedonic adaptation, yakni kemampuan manusia beradaptasi terhadap kondisi baru. Kenaikan gaji yang semula terasa luar biasa perlahan berubah menjadi hal biasa. Pengeluaran ikut meningkat, standar hidup naik, lalu target pendapatan bergeser lagi.
Kondisi ini membuat banyak orang merasa selalu berada "selangkah" dari kehidupan yang dianggap ideal. Survei mengenai kesejahteraan finansial di berbagai negara sering menemukan bahwa kelompok berpenghasilan tinggi pun masih merasa membutuhkan pendapatan yang lebih besar agar benar-benar tenang.
Penelitian longitudinal yang dipublikasikan pada 2025 juga menunjukkan bahwa kepuasan finansial subjektif memiliki hubungan yang sama pentingnya, bahkan dalam beberapa aspek lebih kuat dibanding besarnya pendapatan itu sendiri terhadap kesejahteraan jangka panjang.
Dengan kata lain, pendapatan mampu membantu mengurangi tekanan ekonomi. Namun rasa aman, hubungan sosial, kesehatan mental, waktu luang, serta kemampuan mengendalikan hidup ikut menentukan apakah seseorang merasa benar-benar berkecukupan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 05 Aug 2026
